021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

PIDATO SYEKH AHMAD BADRUDDIN HASSOUN GRAND MUFTI SURIAH DI HADAPAN ANGGOTA PARLEMEN EROPA

Beliau adalah Grand Mufti Suriah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Lulusan Sastra Arab Al-Azhar Mesir dan Guru Besar Ahli Fikih bermadzhab Syafii. Dialihbahsakan dan disuarakan oleh SAIFUDDIN AMAN

image

Assalamualaikum.

Dengan nama Allah yang menciptakan kita semua, yang menciptakan manusia dari tanah yang satu. Dari debu, Allah mewujudkan kita. Dengan ruh-Nya, Allah menghidupkan kita. Dialah satu-satunya sumber kekuatan yang dengan itu kita bisa hidup semua. Karena itu, kepada Anda semua saya berikan pernghormatan dengan menyebut: Wahai Saudara-saudaraku dalam ikatan bumi. Wahai saudara-saudaraku dalam ikatan ruh. Wahai sudara-saudaraku dalam ikatan kemanusiaan.

Yang terhormat Ketua Parlemen Eropa, tuan-tuan dan nyonya-nyonya anggota parlemen yang hadir, yang dimuliakan.

Saya datang di hadapan Anda dari negara yang tidak pernah menjadi pilihan saya untuk menjadi penduduknya di sana. Sungguh langitlah yang memilihkan saya supaya menjadi bagian dari penduduk bumi ini yang disebutkan sebagai bumi yang diberkahi, yaitu negeri Syam, yang terdiri  Palestina, Libanon, Suriah, Yordan dan Israel.

Inilah negeri yang mendapatkan peradaban spiritual dari langit. Di bumi kami wahai para tuan, Nabi Ibrahim berjalan. Di bumi kami, Nabi Musa mendapatkan keamanan dan hidup bahagia. Di negeri kami, dilahirkan Isa alaihis salam. Dari bumi kami, Nabi Isa dinaikkan ke langit.  Dan ke negeri kami, Nabi Muhammad datang dari Makkah untuk kemudian naik ke langit.

Karena itu, saya berharap Anda semua memperluas substansi makna bumi ibu pertiwi yang telah memancarkan  cahaya kepada Anda semua. Kita semua dahulu adalah orang-orang yang mengikuti Isa, orang-orang yang mengikuti Nabi Ibrahim, orang-orang yang mengikuti Nabi Musa, dan orang yang mengikuti Nabi Muhammad (muslimin). Kita semua membawa risalah ke seluruh dunia, menjadi cahaya, sinar  dan kebahagiaan. Karena itu, pada tempatnya, saya sangat berterima kasih kepada Anda semua. Terima kasih yang tulus dari hati yang dalam kepada Ketua Parlemen Eropa yang menghadirkan saya dalam kesempatan ini untuk membuka dialog kongres kebudayaan di tahun diskusi kebudayaan. Dan saya sangat konsen mengkritik terhadap kalimat BUDAYA, yang sering difahami sebagai PERADABAN atau Hadharat (tidaklah bernar BUDAYA-BUDAYA disamakan dengan PERADABAN). Karena sesungguhnya tidak ada PERADABAN yang bermacam-macam, selain bahwa PERDABAN itu cuma satu.

BUDAYA, dialah yang mempengaruhi dan memperkaya perababan kemanusiaan. Peradaban wahai para tuan, dia itu hasil dari ciptaan kita, kitalah yang menciptakan peradaban.  Gedung parlemen ini tidak dibangun oleh orang-orang Nasrani saja, juga bukan orang-orang Yahudi saja, bukan orang-orang Jerman saja, juga bukan orang-orang Islam. Gedung ini dibangun oleh manusia. Maka inilah simbol kemajuan peradaban pembangunan manusia.

Kita semualah yang membangun satu peradaban yang bernama PERADABAN KEMANUSIAAN.  Karena itulah, di negeri kami, kami tidak percaya sama sekali adanya PERANG PERADABAN atau benturan peradaban. Peradaban di dunia ini cuma satu, tidak ada peradaban yang bermacam-macam. Hanya KEBUDAYAAN -lah yang banyak macamnya. Karena itu, mari kita melihat apa yang berbenturan dengan peradaban? Sesungguhnya peradaban itu hanya akan berbenturan dengan kebodohan, bertenturan dengan intimidasi, berbenturan dengan keterbelakangan.

Sedangkan orang-orang yang berbudaya, apapun agamanya, apapun budayanya, dia pasti mengulurkan tangannya kepada tangan kami agar kita bisa membangun PERADABAN KEMANUSIAAN. Karena adanya bantuan uluran tangan ini, maka ketika manusia bisa sampai ke bulan, kami mencari informasi mengenai nama-nama orang yang bekerja di proyek luar angkasa Amerika Serikat dan orang-orang yang bekerja di proyek angkasa Soviet, dan kami menemukan bahwa generasi yang berkecimpung dalam proyek angkasa tersebut tidak semua orang-orang Amerika, juga tidak semua orang-orang Rusia, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang dari keturunan Eropa, Italia, Jerman, Perancis dan Arab. Mereka itulah yang membangun  peradaban kita sampai bisa menembus angkasa.

Maka mari kita jernihkan pandangan kita terhadap kalimat BENTURAN PERADABAN. Kata-kata ini sungguh berbahaya, karena  PERADABAN tidak mungkin dibangun dengan sendirian dan terpisah. Maka saya katakan, orang-orang yang membangun piramid, mereka adalah kakek-kakek kita semua. Mereka yang membangun tembok ratapan adalah kakek-kakek kita. Mereka yang membangun …… adalah kakek-kakek kita.

Berikutnya, masalah penting kedua adalah: Apakah PERADABAN itu mempunyai agama? Atau apakah PERADABAN KEMANUSIAAN itu di dalamnya diisi semangat agama supaya memberikan nila-nilai luhur dan akhlak mulia kepadanya?

Sungguh, di sana tidak ada PERADABAN ISLAM, tidak ada PERADABAN KRISTEN, tidak ada PERADABAN YAHUDI.  Agamalah yang memberikan nilai luhur dan akhlak mulia kepada PERADABAN.  Peradaban, kitalah yang menciptakannya. Agama, Allah yang menciptakannya. Kita mencipta peradaban dan Allah mencipta agama. Karena itu, kami mengharap kepada Anda semua, janganlah diikat PERADABAN itu atas nama satu golongan. Sungguh peradaban adalah karya kita semua, sedangkan agama adalah karya Allah.

Siapa yang mencipta PERADABAN? Yang mencipta peradaban adalah manusia, saya dan Anda. Saya dan Anda itu siapa? Apakah Anda bukan saya? Apakah Anda lain dari saya? Tidak, Anda bukan orang lain. Yang lain adalah binatang. Adapun Anda, Anda adalah  saudara saya, sekalipun berbeda agama, berbeda bahasa. Ibu saya adalah ibu Anda, dan bapak saya adalah bapak Anda. Ibu kita adalah bumi pertiwi dan bapak kita adalah Adam  alaihis salam.

Karena itu, mari kita siapkan generasi baru yang beriman bahwa yang lain dari kita hanyalah binatang. Adapun manusia, yang mengikuti syariat apapun dan dari negara manapun, dia itu adalah saudara saya. Darahnya adalah darah saya, ruhnya adalah ruh saya, pikirannya adalah pikiran saya, kemerdekaannya adalah kemerdekaan saya, dan tentu kebudayaannya berbeda dengan kebudayaan saya, untuk membangun PERADABAN di dunia. Karena itu pula, di negeri kami, kami tidak percaya adanya banyak agama, di sana tidak ada banyak agama. Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad datang dengan membawa agama yang satu yaitu: KESUCIAN ALLAH dan KEMULIAAN MANUSIA.  Sedangkan syariat undang-udang, dia itu bisa berbeda-beda dari zaman ke  zaman. Maka sangat mungkin ada banyak syariat, dan tidak mungkin banyak agama. Failaahuanaa wa ilahukum waahid wanahnu lahu muslimuun, Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu, dan kami kepadanya berserah diri (muslim).

Karena itu, tidaklah mungkin di sana ada BENTURAN AGAMA. Dari sini saya berkata dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada PERANG SUCI. Saya tidak percaya dengan PERANG SUCI. Perang tidak mungkin disucikan selamanya. Tetapi saya percaya hanya DAMAI itulah yang disucikan.

Karena itu pula, mari kita ajarkan anak-anak kita di sekolah-sekolah, di gereja-gereja, di vihara-vihara, di masjid-masjid, bahwa yang DISUCIKAN secara hakiki di alam ini adalah manusia. Bukan hanya Ka’bah yang disucikan, bukan Masjid Al-Aqsha, bukan Tembok Ratapan, bukan Gereja Katredal, bukan Gereja Kebangkitan. Sungguh hanya manusialah yang disucikan di dunia ini. Darah anak kecil bagi saya, sama harganya dengan semua yang Anda sucikan itu.

Mengapa saya berkata demikian wahai tuan-tuan? Karena Ka’bah, dia dibangun oleh manusia, yaitu Nabi Ibrahim. Tembok Ratapan dibangun oleh orang Yahudi, Gereja Katredal atau Gereja Kebangkitan dibangun oleh orang Nasrani. Sementara manusia, siapa yang membangun? Manusia adalah bangunan Allah. Sungguh akan dilaknat orang yang menghancurkan bangunan Allah, dilaknat orang yang merusak manusia. Al insanu huwa binaullah, mal’unun man hadama bina’allah.

Sungguh, anak kecil mana, anak Palestina, anak Israel, anak Irak, yang dibunuh sekarang, Allah akan menghisab kita dan meminta pertanggungjawaban kita semua. Karena anak-anak, mereka adalah patung-patung ciptaan Allah dan kita semua menghancurkannya. Apakah kita mampu menghidupkan mereka kembali wahai tuan-tuan?

Betul. Sekiranya Ka’bah dihancurkan, pasti generasi anak-anak kita akan membangunnya kembali. Sekiranya Masjid Al-Aqsha dihancurkan, pasti cucu-cucu kita nanti yang membangun kembali. Sekiranya gereja dihancurkan, tentu generasi mendatang yang akan membangun kembali. Tetapi saya berharap dan bertanya kepada Anda, sekiranya manusia dibunuh, siapa di antara Anda semua yang bisa mengembalikannya hidup?

Karena itu, saya menyeru Eropa yang mengundang saya ke tempat ini untuk berbicara kebudayaan, saya memulai dari tengah-tengah Anda, di tengah kongres kebudayaan, bahwa tanpa batas kita harus membangun negara-negara yang berdiri atas dasar kemajuan peradaban, bukan atas dasar agama, juga bukan atas dasar kelompok. Agama dan kelompok merupakan hubungan antara Anda dengan Allah. Sedangkan saya dan Anda, kita tinggal di bumi dengan damai. Maka jangan paksa saya untuk mengikuti agama Anda, dan saya juga tidak akan memaksa Anda untuk mengikuti agama saya. Karena agama itu adalah hubungan antara kita dengan Allah Yang Maha Esa. Maka, mari kita bangun generasi baru, yang mempercayai bahwa PERADABAN KEMANUSIAAN adalah karya bersama, dan yang DISUCIKAN paling besar di bumi ini adalah manusia dan kemedekaanya, tentu sesudah Allah Azza Wajalla.