021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

AGAMAWAN DAN SENIMAN

Agamawan belum tentu Ruhaniawan. Kalau Seniman in-sya-Allah Ruhaniawan, walaupun tidak berceramah di sana-sini. Kenapa Seniman bisa sama dengan Ruhaniawan. Karena Seniman dan Ruhaniawan mengkpersikan ungkapan dan karya-karyanya bersumber dari RASA yang ada dalam hati nuraninya. Rasa bersifat universal, jujur dan tidak bisa dibohongi. Rasa tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa ditekan oleh dendam, tidak bisa dipaksa oleh kebencian, tidak bisa diintimdasi oleh kezaliman. Rasa hanya bisa dihilangkan dengan doktrin yang berulang-ulang. Rasa inilah yang disebut oleh Ahli Tasawuf sebagai “Adz-Dzauq.” Rasa menurut Ahli Tasawuf Al-Qusyairi adalah:

ما يجده العالم على سبيل الوجدان والكشف، لا البرهان والكسب، ولا على طريق الأخذ بالإيمان والتقليد
Yaitu apa yang ditemukan orang pintar melalui pemberitahuan hati nurani dan keterbukaan hati, tanpa dalil juga tanpa usaha, tidak dengan jalan iman juga tidak dengan taklid.

Bukti kalau rasa itu universal adalah apa yang kita lihat hari ini. Seniman dan Ruhaniawan punya “Rasa” atau “Dzauq” yang sama. Dan kesamaan itu diekspersikan dalam berbagai perkumpulan “GUE GARUDA”. Kalau ada Seniman atau bahkan jika ada budayawan yang berbeda, mungkin saja karena sudah menjadi Agamawan. Dan lihatlah saudara-saudara kita yang bersuara tentang penistaan, penghinaan, tentang kelompoknya, merasa paling benar, pasti mereka bukan kelompok seniman. Kalau ada seniman atau budayawan yang membela koruptor itu pasti jiwanya sudah bukan lagi jiwa seniman. Maka kemudian mereka mengekspresikan kemarahan, kebencian, ketidaksukaan dengan menggunakan issu agama.

Salam Cinta dan Damai Nusantara