021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

BERAGAMA ITU MEMBELA KEMANUSIAAN BUKAN MEMBELA TUHAN

Agama ialah sistem kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan itu,

Kepercayaan itu urusan hati, urusan batin dan sangat pribadi. Urusan hati, urusan batin dan masalah pribadi tidak bisa diinterfensi dan juga tidak bisa dipaksakan. Kalau gerakan fisik, orang bisa menilai kualitasnya. Tetapi perasaan hati atau batin, orang tidak tahu kualitasnya. Maka hal-hal yang berkaitan dalam urusan hati atau batin diserahkan kepada Tuhan. Aparat atau pihak yang berwenang, baru boleh bertindak kalau apa yang diyakini oleh hati seseorang itu diimplementasikan dalam bentuk perbuatan yang melanggar aturan atau dinyatakan secara terang-terangan dan meresahkan banyak orang.

Ketika Agama menjadi urusan hati, dan hati merupakan tempat rasa dan sumber keindahan, maka sesungguhnya orang yang beragama adalah orang yang merasakan keindahan dan memberikan keindahan. Karena itu, apapun yan dikerjakan dan apapun yang dilakukan oleh orang yang beragama akan menghadirkan keindahan, sebab gerakan/tindakan itu keluar sebagai refleksi dan dimotivasi oleh hati yan indah. Orang yang prilakunya tidak baik, dan memunculkan sikap permusuhan, berarti di dalam hatinya tidak ada keindahan dan tidak merasakan keindahan. Bisa jadi secara lahir dia beragama, tetapi sesungguhnya dia tidak beragama walaupun dari mulutnya mengaku paling beragama.

Penulis buku AL ISLAM, MA HUWA, Mustofa Mahmud menyatakan:
الدين حالة قلبية … شعور … احساس باطني بالغيب وادراك مبهم ولكن مع ابهامة شديد الوضوح بان هناك قوة خفية حكيمة تدبر كل شيء
الاحساس بالغيب هو روح العبادة وجوهرة الاحكام والشرائع وبدونه لا تعنى الصلاة ولاتعنى الزكاة شيئا

Artinya: “Agama adalah situasi hati, rasa, dan kepekaan batin pada yang ghaib dan penemuan pada yang tersembunyi. Tetapi dengan penemuan pada yang tersembunyi itu justru menjadi sangat jelas bahwa di sana ada kekuatan yang rahasia penuh bijak untuk bisa mentadabburi (menemukan kejelasan) segala sesuatu. Kepekaan pada yang ghaib adalah ruh ibadah dan esensi hukum dan syariah. Tanpa itu, shalat dan zakat tidak berarti apa-apa.”

Rasa indah inilah yang mewariskan sikap diri untuk mengagungkan Allah, menjalankan ketakwaan kepada Allah dan berakhlak karimah.

Rasa adalah hakikat. Dan hakikat adalah bahasa hati yang tidak bisa dibohongi. Pada tingkat hakikat ini, semua orang punya rasa yang sama, maka damailah dalam satu rasa.

Secara lahir kita ditakdirkan berbeda-beda, dipastikan setiap kita punya sikap dan pikiran yang berbeda-beda. Dari perbedaan tersebut bisa memunculkan pertengkaran dan gesekan yang pada gilirannya saling menghinakan. Maka Tuhan memberikan AGAMA, agar manusia merasa indah dan memberikan keindahan dalam perbedaan. Dengan rasa itu, manusia akan membela dan memperjuangkan perikemanusiaan. Semakin tinggi keberagamaan seseorang akan semakin tinggi rasa kemanusiaannya. Ketika kita melihat ada kelompok organisasi menistakan, mencaci, dan menyerang kemanusiaan orang lain, kita punya tanggung jawab semampunya mencegahnya, karena itu bukan cermin dari agama, walaupun mereka berteriak-teriak membela agama atau membela Tuhan. Rasulullah SAW bersaba: laa ya’til khoiru illaa bilkhoir, tidak akan datang kebaikan kecuali dengan kebaikan. Bagaimana bisa menarik kebaikan, kalau dengan melakukan pengrusakan. Bagaimana bisa mencegah kemungkaran kalau dengan melakukan kemungkaran yang lebih besar, walau dengan teriakan takbir dan berdalih perintah Allah. Kalau toh mereka berhenti, itu hanya takut sementara tetapi hatinya menyimpan dendam. Tuhan tidak perlu pembelaan, yang perlu dibela adalah kemanusiaan. Syekh Badruddin Hasson berkata: Jika ka’bah di rusak, masih bisa diperbaiki. Jika masjid dirusak masih bisa dibangun kembali, jika gereja dibakar masih bisa dibangun kembali. Tetapi jika manusia dibunuh, maka siapa yang bisa menggantikannya….?