021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

KHOTBAH JUM’AT DI AL IHSAN, 17-5-2013

Setiap hari Jum’at kita terus diingatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah, seperti ayat yang wajib di baca dalam mukaddimah khotbah ini: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai orang muslim” (QS. Ali Imran: 102)

Mayoritas ulama mendefinisikan takwa adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah. Substansi pesan takwa adalah memelihara diri dari yang merusak dan meningkatkan kualitas diri dengan beramal shaleh untuk menghadapi hari esok dan hari akhir. Hari esok dimulai dari hari ini sampai tiba ajal kematian. Dan hari akhir dimulai dari kematian hingga masuk syurga bagi orang yang beriman dan masuk neraka bagi orang kafir.

Untuk meningkatkan kualitas hidup, Allah telah memberi akal atau “Lubb” yang bentuk jamaknya “Albab.” Orang yang menggunakan akal disebut “Ulil Albab.” Dan dalam banyak ayat disebutkan, mereka adalah orang-orang yang dijamin sukses dan dibanggakan Allah.

Diriwayatkan oleh Aisyah dalam sebuah hadits. Bahwa tidak seperti biasanya, Rasulullah subuh itu agak sedikit terlambat ke masjid, maka Bilal menyusul ke rumah. Begitu masuk, Bilal mendapati Rasulullah Saw sembab matanya dan di pipinya masih ada linangan air mata. Bilal menghibur: “ Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Bukankah Allah sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?” Rasulullah Saw menjawab: “Bilal, malam ini Jibril datang membawa wahyu yang dahsyat. Celaka bagi orang yang membacanya dan tidak memikirkan makna dan substansinya.” Kemudian Rasulullah membacakan ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(QS. Surat Ali Imran: 190-191)

Ayat ini mememberitahukan kepada kita tentang pentingnya ibadah FIKIR dan ZIKIR. Allah mengangkat kedudukan yang sangat tinggi bagi orang yang BERFIKIR dan BERZIKIR.

Apa itu berfikir? Menurut bahasa berfikir ialah fahmusy syai’, memahami sesutu. Dengan pemahaman itu kita akan menemukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita. Berfikir adalah aktivitas ruhani untuk menemukan apa saja. Ulama menyebutkan:

التفكُّر سياحة نورانية ورياضة إيمانية؛ ينطلق فيها القلب في وعي، والعقل في يقظة معاً بعيداً في ساحات الإيمان بلا قيد من جواذب الأرض وقيود الشهوات؛ فيلتقط الحكمة والمعرفة ومعاني الإيمان والترقي في درجات العبودية.

Artinya: Berfikir adalah wisata cahaya dan olah raga keimanan. Dari sana hati yang sadar berangkat, dan dari sana akal bergerak mengarungi samudera keimanan tanpa batas, lepas dari ikatan dunia dan syahwat, kemudian menemukan hikmah dan makrifah, makna keimanan dan ketinggian derajat pengabdian kepada Allah.

Berfikir adalah perintah Allah. Berfikir adalah juga ibadah kepada Allah, tetapi banyak di antara kita yang mengabaikannya. Bahkan banyak orang yang tidak mau menggunakan pikirannya, sehingga masih orisinil akalnya.

Pikiran kita adalah Lampu Ajaib, seperti Lampu Aladin dalam kisah Seribu Satu Malam, yang bila digosok-gosok akan keluar JIN yang bisa diperintah melakukan apa saja. Begitu juga, bila pikiran kita diasah-asah, dia bisa memunculkan apa saja yang kita inginkan. Kita ingin menjadi apa adalah tergantung asahan pikiran kita. Kita ingin punya apa adalah tergantung bagaimana asahan pikiran kita. Bahkan apa yang ingin kita lakukan hari esok adalah apa yang kita pikirkan hari ini. Kalau hari ini kita tidak berpikir, maka hari esok kita tidak melakukan apa-apa.

Bangsa ini akan menjadi bangsa yang jaya dan bermartabat, kalau kita memberdayakan lampu ajaib kita yaitu pikiran. Pikiran kita harus diasah-asah, diasuh-asuh dan diasih-asih. Diasah-asah dengan membaca, diasuh-asuh dengan makanan yang baik halalan thayyiba, dan diasih-asih dengan kalimat-kalimat yang indah dan positif.

Sayang sekali, ternyata kita bukan termasuk bangsa yang suka membaca. Minat baca kita diakui oleh WHO berada di bawah Kamboja dan Vietnam. Dari penelitiannya, minat baca kita adalah 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang hanya satu orang yang punya minat baca tinggi. Pantas saja kita disalib oleh bangsa-bangsa lain.

Ingatlah Saudaraku, bila pikiran kita tidak kita isi dengan pikiran-pikiran yang baik dan tidak kita isi dengan bacaan atau informasi yang baik, maka pikiran kita akan diisi oleh pikiran-pikiran yang tidak baik. Ibarat sebuha kebun kalau tidak ditanami, maka dia akan tumbuh ilalang dan banyak didatangi binatang pengerat. Apapun yang sudah masuk ke dalam pikiran akan menjadi program dalam otak bawah sadar. Dan otak bawah sadar tidak lagi membedakan yang baik dan buruk. Maka akhirnya yang jahat dan buruk itulah yang dijalankan, sementara kita tidak merasa bahwa itu adalah jahat dan salah.

Kalau Berfikir kita ibaratkan surat yang berisi berbagai macam keinginan dan harapan, maka Berzikir adalah perangkonya.

Apa itu Berzikir? Berzikir adalah aktivitas ruhani supaya bisa sampai kepada Allah. Berzikir adalah aktivitas ruhani untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi harapan. Berzikir adalah aktivitas ruhani untuk menenangkan hati dan memberdayakan pikiran. Berzikir adalah aktivitas yang bisa mengantarkan fisik supaya mendapatkan kenikmatan dan meraih kemuliaan. Berzikir adalah kendaraan yang mengantarkan pada kesuksesan. Rasulullah Saw bersabda:

سبق المفردون قالوا وما المفردون قال الذاكرون الله كثيرا والذاكرات

Telah sampai pada kesuksesan para mufarridun. Para sahabat bertanya: Sipa itu mufarridun wahai Rasulullah. Beliau menjawab: yaitu laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir.

Allah berfiman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir, Allah siapkan bagi mereka ampunan dan upah yang besar (QS. Al-Ahzab: 35).

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Barangsiapa yang berpaling dari zikir kepada-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan himpunkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS. Thaha: 124).