021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Khotbah Jum’at di Masjid Jami Al-Ihsan, 29 Januari 2016

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (QS. Saba’: 28)

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya’: 107).

Islam adalah agama yang sempurna, berisikan tuntunan yang utuh dan harus dirasakan keindahannya oleh semua umat. Islam harus dirasakan rahmatnya, tidak hanya bagi orang Islam, orang kafir sekalipun harus merasakan rahmat Islam; tidak hanya orang yang rajin beribadah, orang yang tidak beribadah pun harus merasakan rahmatnya.

Untuk memahami agama, kita tidak boleh hanya melihat dari satu sisi, lalu dari sisi itu kita merasa menjadi orang yang paling tahu dan paling benar. Ibarat sebuah kotak yang terdiri dari beberapa sisi, ada sisi putih, ada sisi merah, ada sisi hijau, dan ada sisi hitam. Jika Anda berdiri pada satu posisi, pasti Anda hanya melihat satu warna. Begitu juga orang lain yang ada di posisi lain, pasti dia akan melihat warna lain. Jangan karena Anda hanya melihat satu warna merah, lalu Anda merasa paling tahu bahwa agama itu adalah merah. Tetapi cobalah pindah posisi, nanti Anda akan melihat warna lain, Anda akan tahu bahwa kotak sebagai satu benda itu terdiri dari beberapa warna.

Dalam memahami dan mengamalkan Islam, kita harus menjangkau dan mengetahui sisi-sisinya atau dimensinya:

  1. Dimensi Teologikal.
  2. Dimensi Ritual.
  3. Dimensi Mistikal.
  4. Dimensi Intelektual.
  5. Dimensi Sosial.

Dimensi Teologikal membahas keimanan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa berikut sifat-sifat, nama dan af’al-Nya. Di dalam dimensi ini ulama sepakat ada rukun yang disebut rukun Iman. Sungguh pun demikian, tetap saja ada perbedaan dalam menentukan apakah seseorang yang menyatakan sesuatu atau melakukan sesuatu masih termasuk golongan beriman atau tidak beriman.

Dimensi Ritual, adalah dimensi syariat, menyangkut soal ibadah, hukum dan muamalah yang diatur secara khusus atau ada ketentuan-ketentuan khusus, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, dan ibadah mahdhah. Ternyata dalam dimensi ini juga banyak perbedaan, maka kita mengenal adanya mazhab-mazhab yang diikuti oleh umat.

Dimensi mistikal, yaitu sisi yang berhubungan dengan penemuan makna dan rasa yang berhubungan dengan jiwa. Seorang yang beragama dengan benar, yang memperhatikan dimensi teologikal dan dimensi ritual, mestinya sudah bisa menemukan substansi agama merasakan betapa indahnya beragama. Bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh syariat dan itu hanya bisa dirasa, misal mengalami peristiwa yang luar bisa yang tidak bisa dijelaskan oleh akal dan tidak cukup diceritakan oleh lisan.

Dimensi Intelektual, adalah sebuah dimensi yang melibatkan pemikiran, berkaitan dengan tafsir, takwil, penelitian, penemuan-penemuan, kajian-kajian yang menjelaskan teks atau dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an adalah mukjizat Tuhan, bahasanya sangat tinggi, luwes dan melampaui jangkauan pikiran manusia, maka dia memerlukan penjelasan yang sesuai dengan daya tangkap atau daya pikir manusia dan juga sesuai dengan keadaan zaman. Masa kini dijelaskan seperti ini, masa depan penjelasannya sesuai dengan hal-hal yang terbarukan. Bahasa Tuhan tidak boleh dibatasi jangkauannya hanya untuk saat ini (selagi mengikuti ketentuan), karena itu berarti membatatasi kekuasaan Tuhan. Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa yang dimaksud Tuhan adalah apa yang dikatakan atau pendapatnya, sehingga yang tidak sependapat dengannya dianggap keluar dari kehendak Tuhan, lalu dikafirkan.

Dimensi Sosial adalah dimensi keumatan (humanism), menyangkut sisi-sisi kemanusiaan tanpa sekat dan perbedaan kulit dan kepercayaan. Di sini ada keadilan, ada kasih sayang, ada cinta, ada penghormatan, ada penghargaan, ada toleransi dan saling pengertian, ada empati, ada simpati, ada hak dan sebagainya. Dimensi ini menjadi tolok ukur keberagamaan seseorang. Tidaklah beragama secara kaffah orang yang berlaku radikal, seperti membunuh dan menyakiti orang lain, walau jidatnya hitam karena banyak shalat. Karena tindakan radikal berarti kehilangan sisi kemanusiaan. Bukanlah disebut sebagai orang yang beragama kalau tidak punya rasa kemanusiaan. Dimensi Inilah yang membuat dunia damai dan hidup penuh ketenangan.