021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

 

israk

Gambar Ust. H. Saifuddin Aman memberikan ceramah hikmah Isra’ Mi’raj di Masjid Al-Ihsan Kerinci (Sabtu, 14 Mei 2016). Acara dihadiri Camat Kebayoran Baru, Lurah Gunung, dan dilanjutkan dengan santunan anak yatim.

Isra’ Mi’raj adalah mukjizar Rasulullah, terjadi karena kekuasaan Allah dan atas kehendak Allah. Allah berkehendak kepada Nabi Muhammad agar menunjukkan kebesaran Allah yang diberikan kepadanya, yaitu sebuah kejadian yang diluar nalar, dan peristiwa yang luar biasa dan hanya sekali terjadi. Secara lahir Isra’ Mi’raj hanya Rasulullah saja yang melakukan, tidak mungkin dilakukan oleh umatnya.

Peristiwa ini sangat menggemparkan, karena Rasulullah Saw Isra’ dan Mi’raj dalam kapasitasnya sebagai Manusia Jasmani dan Manusia ruhani, yakni manusia seperti kita yang terdiri dari jasad dan ruh. Kalau saja setelah peristiwa itu Nabi Muhammad menceritakan bahwa Isra’ Mi’raj tanpa dengan tubuh jasmani, atau hanya dengan tubuh ruhani, maka tentu tidak ada kehebohan dan tidak ada penentangan. Mereka orang-orang kafir bisa saja menyatakan bahwa Rasulullah sedang bermimpi. Dan memang kalau Isra’ Mi’raj hanya dengan ruhani, tentu ada orang yang bisa berimajinasi. Untuk menguji kebenaran Rasulullah itu, orang-orang kafir membuat pertanyaan yang bersifat fisik pandangan mata, misalnya: Masjid Al-Aqsha itu seperti apa bentuknya dan apa warnanya. Mereka juga bertanya tentang kafilah dagang Arab yang sedang menuju dan pulang dari wilayah yang sama dan ditempuh dalam waktu sebulan lebih. Semua pertanyaan dijawab dan dijelaskan Rasulullah secara mendetail, bahkan disebutkan bahwa sebentar lagi kafilah dagang “Anu” juga akan segera tiba.

Peristiwa Isra’ merupakan bukti kalau perjalanan darat, yaitu perjalanan yang bersifat duniawi dan mendapatkan pengetahuan kegaiban yang bisa dilihat dan dirasakan di dunia. Dalam perjalanan Isra’ itu Rasulullah melihat ada kelompok tani yang memanen padinya pagi hari dan sore hari sudah tumbuh lagi. Ini adalah penglihatan fisik dan penalaran logis bahwa orang yang bebuat baik/bersedekah/menanam kebaikan akan mengalami panen terus-menerus. Rasul juga melihat orang-orang yang merusak dirinya sendiri, dan ini dijelaskan oleh malaikat Jibril bahwa itulah orang yang berbuat buruk, dia akan merusak dirinya sendiri, dan merasakan akibatnya, tidak hanya di akhirat tetapi juga di dunia.

Sedangkan perjalanan Mi’raj dia merupakan perjalanan angkasa yang super cepat dan super kilat. Dalam perjalanan ini Rasulullah bertemu dengan para nabi yang terdahulu. Perjalanan angkasa adalah perjalanan super gaib, tetapi kegaiban itu dibuka oleh Allah, sehingga Rasulullah menyaksikan secara terang benderang yang selama ini gaib bagi dirinya.

Perjalanan Isra’ Mi’raj secara syariah memang hanya dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi tidaklah ada artinya peristiwa itu kita kenang dan tidak ada gunanya kita peringati, kalau kita tidak bisa mengikutinya. Isra’ Mi’raj yang dialami Rasul tidak semata dongeng tanpa makna, tidak semata cerita tanpa tujuan dan tanpa substansi yang maha penting. Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah secara syariah adalah udangan Allah, panggilan Allah dan melaksanakan perintah Allah. Dalam dimensi hakikat, perjalanan Isra’ Mi’raj mengandung 3 makna penting, yaitu:

1.Isra’ dan Mi’raj adalah Melihat ayat-ayat Allah sehingga sampai pada makrifat.

2.Isra’ adalah Pembelajaran lmu Rasa.

3.Isra’ dan Mi’raj hakikatnya adalah dua etape penyeberangan keyakinan. Yaitu:

  • Isra’ berarti perjalanan menyeberang dari Ilmul Yaqin menuju Ainul Yaqin.
  • Mi’raj berarti perjalanan menyeberang dari Ainul Yakin menuju Haqqul Yakin.

Rasulullah Saw dipanggil Allah, sama dengan kita yang setiap waktu dan setiap saat dipanggil dan diundang Allah untuk menghadap-Nya. Kita memang tidak bisa Isra’ Mi’raj seperti Rasulullah dengan jasad dan ruh, tetapi kita harus ber-Isra’ dan ber-Mi’raj secara hakikat ruhaniah, karena manusia bukanlah jasadnya, tetapi manusia adalah ruhnya.

Isra’ Mi’raj dalam dimensi hakikat (dunia tasawuf), adalah perjalanan memantapkan keimanan kepada Allah yang harus bisa dibuktikan dengan musyahadah, seperti Rasulullah musyahadah kepada Allah, menyaksikan dan merasakan apa yang selama ini diimani berdasarkan informasi. Ketika kita beriman bahwa Allah akan memberikan balasan kepada orang yang bersedekah umpamanya, maka dengan kita ber-Isra’ dan ber-Mi’raj, kita bisa melihat dan merasakan balasan Allah di dunia sekarang ini, tidak semata hanya percaya akan mendapatkan pahala di akhirat.