021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

JAGA HARGA DIRI HINDARI MENEBAR FITNAH 

Jangan cepat-cepat ikut menyebarkan berita sekalipun itu benar menurut perasaan Anda. Kadang kita begitu cepat membagi (share) sebuah berita, supaya terkesan kitalah yang paling awal tahu tentang sebuah berita atau peristiwa. Padahal sesungguhnya enggak juga, karena ternyata orang lain sudah melakukannya. Sangat bagus kalau berita itu memotivasi dan memberikan semangat, tapi akan sangat buruk kalau berita itu membangkitkan kebencian dan menciptakan prasangka buruk. Jagalah diri kita untuk tidak semabarangan membagi berita (share), kecuali berita yang menggembirakan dan memotivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan kebaikan.

Berita atau “khabar” dalam Ilmu Balaghah ialah cerita yang mungkin benar dan mungkin salah, tidak ada jaminan 100 persen benar, juga tidak ditanggung 100 persen salah. Bahasa Arabnya: Alkhobar huwa ma yahtamilush shidqa wayahtamulul kadzib (kabar yaitu sesuatu yang berptensi benad ran berpotensi bohong). Berhati-hatilah menyebar berita yang menyangkut nama seseorang, itu bisa menjatuhkan marwah kita sendiri. Menurut perasaan kita, orang itu salah, padahal sebaliknya dia belum tentu salah, bisa saja kenyataannya tidak sesuai dengan yang diberitakan. Kalau benar kita disebut ghibah, kalau salah kita berarti mendusatakannya, dan itu sama-sama berdosa. Ghibah artinya “menggunjing”, menurut Ibnu Manzhur, Ghibah ialah membicarakan orang di balik layar (orangnya tidak ada/ghaib/tidak nampak).

Disebutkan dalam hadits. Ditanyakan:  Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu kalau yang aku katakan itu sesuai kenyataan? Rasulullah menjawab: Jika yang kamu katakan itu sesuai dengan kenyaataan, maka kamu telah berbuat GHIBAH. Dan jika yang kamu katakan itu tidak sesuai, maka kamu telah membuat kebohongan.

Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 58 menyatakan: Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12 menyatakan: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ghibah sekarang ini tidak lagi dengan bisikan kata, tetapi dengan sentuhan jari di di gadget masuk media sosial, efeknya bisa mengacaukan suasana. Maka dosanya mungkin jauh lebih besar. Semakin luas penyebarannya, maka semakin besar dosanya kerena efek yang ditimbulkannya. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menahan diri tidak membagikan berita ghibah? In sya Allah dengan tip berikut ini, setidaknya kita bisa mengurangi ghibah.

  1. Yakini berita itu tidak 100 persen benar. Kalau anda percaya itu benar, maka cukuplah berita itu untuk Anda sendiri. Kalau Anda pengen berbagi, maka katakan dalam komentar: “Apa ini benar…?” atau “Perlu dicek dan diklarifikasi/tabayyun.”
  2. Pahami benar dengan logika, masuk akal nggak sih. Jika berita tersebut sudah menyangkut nama seseorang, menjelekkan/menjatuhkan, maka sudah pasti itu berita tendensius. Jangan share. Yang demikian itu juga masuk dalam namimah atau adu domba, dosa besar.
  3. Apapun beritanya, kalau sudah membuka-buka aib dan keburukan orang, maka kita jangan membagikan kepada orang lain. Biarkan lembaga resmi yang memberitakannya. Anda jangan ikut menyiarkannya, sebab agama memerintahkan untuk menutupi aib orang lain. Ikuti slogan Rumah Makan Padang: “Anda senang beritahu kawan, Anda tidak senang kasihtahu kami.” Maksudnya: Yang baik kasihtahu orang, yang buruk jangan disebarkan tetapi langsung kasihtahu kepada yang bersangkutan dengan cara bijaksana. Jangan karena kebencian kita kepada seseorang, lalu kita sebarkan keburukannya ke mana-mana.