021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Agama Itu Ada Di Rasa

Oleh Ust. H. Saifuddin Aman

Abu Yazid seorang Ulama Sufi Besar lahir tahu 188 Hijriyah dan hidup di Persia atau Iran  sekarang. Suatu ketika Abu Yazid Al-Busthami sedang berjalan sendiri. Lalu dia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya. Namun ketika sudah hampir dekat, Al-Busthami mengangkat bajunya kuatir tersentuh anjing yang najis itu.

Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya, “Tubuhku kering tidak akan menyebabkan najis padamu, kalau pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7 kali dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat bajumu karena menganggap dirimu yang berbadan manusia dan berbaju gamis itu lebih mulia, dan menganggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yg menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudra.”

Abu Yazid tersentak dan minta maaf. Lalu sebagai permohonan maafnya dia mengajak anjing itu untuk bersahabat dan diajak jalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya dan berkata: “Engkau tidak patut berjalan denganku, nanti orang-orang yang memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku juga berserah diri pada sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku juga tidak membawa tulang dan tidak juga menyimpan daging, sedangkan kamu membawa uang dan menyimpan makanan.” Lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid masih terdiam sambil meratapi dirinya, “Ya Allah, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja aku tak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-Mu, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari najis ya Allah.” Sejak itu Abu Yazid memuliakan dan mengasihi semua mahluk Tuhan tanpa syarat.

Saudara-saudara sekalian….

Kita bertanya: Apa benar Abu Yazid bisa memahami bahasa binatang dan kenapa Abu Yazid Al-Bustami meratapi dirinya dan memuliakan semua makhluk Allah termasuk binatang? Ya betul. Itulah bukti kalau Abu Yazid sebagai orang yang beragama. Orang yang beragama sangat peka dan tajam indranya. Allah berfirman dalam hadis qudsi:

ومازال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها وقدمه التي يمشي بها وإذا سألني لأعطينه وإذا استغفرني لأغفرن له وإذا استعاذني أعذته

Dari kisah tersebut, saya mengajak untuk melakukan perenungan tentang diri kita. Apakah kita sudah beragama, atau kita hanya berilmu agama?

Dr. Mustafa Mahmud dalam bukunya Ma Huwal Islam (Apa Itu Islam) menjelaskan, bahwa agama bukanlah pekerjaan dan memang tidak boleh dijadikan pekerjaan. Di dalam Islam tidak ada pejabat yang disebut pejabat agama atau pengelola agama, ahli agama, atau Rijaluddin. Yang ada hanyalah ulama, yaitu mereka yang punya Ilmu Agama, untuk mengantarkan orang beragama. Ketika kita menyebut ada Tokoh Agama, itu artinya tokoh yang memiliki keilmuan agama. Di sekolahan dan di tengah-tengah masyarakat ada “Guru Agama” atau “Ustadz”, dia itu ialah orang yang memiliki ilmu agama, tetapi belum tentu beragama.

Syiar-syiar dan ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh kaum muslimin secara rutin dan berulang-ulang, yang tidak disertai “RASA”, sama sekali itu bukan agama. Agama bukan produk atau properti, juga bukan jasa. Maka tidak ada fesyen Islami. Jilbab, burqa’, cadar, celana, baju koko, gamis, sorban, peci, selendang, sarung, kebaya, minyak wangi, bukhur, semuanya adalah adat kebiasaan atau “urf” yang bisa dipakai oleh siapa saja. Orang Islam memakainya, orang Hindu memakainya, orang Budha memakainya, orang Majusi memakainya dan siapapun memakainya, Abu Bakar memakainya, dan Abu Jahal juga memakainya. Tidak ada musik Islami, karena yang menggunakan musik juga banyak penganut agama lain. Rebana atau gitar misalnya, orang Islam memainkannya, orang Hindu memainkannya, orang Nasrani memainkannya, orang Budha memainkannya dan sebagainya.

Beragama tidak sama dengan Berilmu Agama. Karena semua orang bisa mempelajari ilmu agama dan banyak orang mempunyai ilmu agama. Para orientalis, mereka mempelajari ilmu agama Islam dan banyak tahu tentang Ilmu agama Islam, tetapi mereka tidak Beragama Islam. Penulis Kitab Al-Mu’jam Al-Mufahrasy Li Alfadh Al-Hadits yang dijadikan pedoman para Masyaikh Al-Isam, dia bukan beragama Islam. Karena itu pula maka agama bukanlah ilmu.

Kalau begitu, apa itu agama?

Agama adalah:

حالة قلبية شعور واحساس باطني بالغيب وادراك مبهم لكن مع ابهامه شديد الوضوح بان هناك قوة خفية حكيمة مهيمنة عليا تدبر كل شيء

Situasi qalbu, rasa, kepekaan pada yang ghaib dan pemahaman pada yang tersembunyi. Dengan pemahaman pada yang tersembunyi itu, justru menjadi jelas bahwa di sana ada rahasia kekuatan yang penuh hikmah, yang memperkokoh, yang bisa menjelaskan segala sesuatu.

“Halah qalbiyyah”. Yaitu situasi kebatinan, rasa dan sensifitas qalbu. Halah Qalbiyyah itu hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tidak bisa dirasakan orang lain, dan juga tidak bisa dipaksakan kepada orang lain untuk merasakannya. Kalau toh bisa merasa, pasti kualitas dan volumenya berbeda.

Dengan rasa itu, orang bisa menemukan kekuatan besar yang ghaib. Dengan rasa itu, orang bisa musyahadah kepada Allah melihat dengan jelas. Saat orang mampu musyahadah, maka dia menjadi orang yang bijaksana dan mampu mentadabburi segala sesuatu. Rasa inilah yang mewariskan haibah dan ketaqwaan kepada Allah. Semakin dalam keberagamaan seseorang, maka akan semakin tunduk kepada Allah, tidak sombong dan tidak menghinakan orang lain. Beragama menumbuhkan rasa bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain, merasa diri tidak lebih suci dari orang lain. Allah mengingatkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ﴿٣٢﴾

Maka janganlah kamu mengatakan bahwa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa (An-Najm: 32).

Beragama menumbuhkan rasa bahwa diri tidak dijamin aman dari azab Allah. Dengan rasa ini, orang tidak seeanaknya menentukan seseorang masuk syurga atau masuk neraka. Dengan rasa ini, orang tidak mengatakan kamu kafir, kamu munafik, kamu sesat dan sebagainya.

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩٩﴾

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi (Al-A’raf: 99).

Banyak orang disebut Ulama, yakni banyak ilmunya dan banyak ilmu agamanya, tetapi belum tentu Beragama. Karena ilmu dan ilmu agamanya belum mengantarkan dirinya untuk punya “rasa”. Rasa adalah hakikat, maka rasa tidak bisa dibohongi. Iklan kecap Bango menyatakan “Rasa tidak bisa dibohongi.” Orang bisa tertipu dengan warna dan penampilan, tetapi tidak bisa ditipu dengan rasa. Gula warna putih, garam warna putih, tepung warna putih, tetapi rasa akan jujur tidak berbohong.

Jadi manakala seseorang sudah bisa mencapai “Halah Qalbiyyah” yakni mencapai pada rasa, maka dia telah beragama. Pada saat itulah dia menjadi humanis rahmat bagi alam semesta. Dia akan berdamai dengan siapa saja tanpa membedakan ras, dia berbagi kasih dan sayang dengan siapa saja, dan dia bisa berkeja sama dengan siapa saja. Ilmu agama yang belum mengantarkan diri pada halah qolbiyyah beragama, dia akan cenderung menjadi egosentris, tidak bisa menerima pendapat orang lain dan kehilangan toleransi.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl: 125)

.