021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

Arti Ahli Sunnah Wal Jamaah

Ahli artinya kerabat, keluarga, orang-orang yang familer, orang-orang yang punya keilmuan khusus dan luas (proffesional), penduduk atau masyarakat.  Kata “Ahl” maknanya menjadi sangat spesifik dan khusus bila disandingkan dengan sebuah kata sesudahnya. Misal: Ahli Syurga, Ahli Neraka, Ahli Kitab, Ahli Qur’an, Ahli Sunnah, Ahli Hukum, dll.

Sunnah, artinya jalan, kebiasaan, prilaku, ciptaan, dan bawaan asli (tabiat). Sesuai dengan disiplin keilmuan, Sunnah bisa dilihat maknanya sebagai berikut:

Menurut Ahli Ilmu Hadits. Sunnah adalah semua yang sisandarakan kepada Nabi Muhmmad SAW berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat-sifat kepribadian dan sifat-sifat kemanusiaan.

Menurut Ahli Fikih. Sunnah yaitu perbuatan atau tindakan yang diberikan pahala apabila dikerjakan dan tidak diberikan siksa kalau ditinggalkan.

Menurut Ahli Usul. Sunnah yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatan atau ketetapan.

Menurut Ahli Aqidah. Sunnah adalah petunjuk Nabi SAW dalam pokok-pokok agama, dan apa saja yang disyariatkan atau ditetapkan untuk menghadapi masalah-masalah baru dan bid’ah.

Arti Sunnah di masa Rasulullah ialah ajaran agama yang telah diimplementasikan oleh Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya. Karena itulah kita diperintahkan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan Sunnah para sahabatnya. Rasulullah SAW bersabda:

أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمّر عليكم عبد؛ فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضّوا عليها بالنواجذ رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Artinya: Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengarkan dan mentaatinya. Dan pada suatu saat nanti kalian dipimpin oleh seorang hamba, maka barangsiapa di antara kamu hidup pada saat itu, dia akan melihat banyak perselisihan. Di situlah kalian pengang dan ikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberikan hidayah, peganglah atasnya dengan erat-erat (HR. At-Tirmidzi).

Jamaah artinya kumpulan yang banyak. Kata Jamaah bisa diartikan sebagai kelompok manakala disambung atau digabung dengan kata sesudahnya, yang berarti jumlah banyak tetapi terbatas. Contoh: Jamaah Masajid Al-Ihsan, Jamaah Pengajian, Jamaah Majlis Zikir, dsb. Berjamaah berarti melakukan bersama-sama dengan banyak orang dalam satu tujuan.

Jamaah sesuai dengan kontek pembicaraan kita di sini adalah: Kelompok terbesar dari kaum muslimin sedunia, yang di dalamnya ada ahli Islam, para mujtahid, ulama dan ahli syariah yang bersepakat menggunakan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas. Kelompok inilah yang ciri-cirinya disebutkan nanti di bawah.

Ahli Sunnah Wal Jamaah sebagai sebuah kelompok dalam Islam, sudah dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya. Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah satu kelompok yang dijamin selamat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

افترقت اليهود إلى إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى إلى اثنتين وسبعين فرقة وستفترق أمتي إلى ثلاث وسبعين فرقةكلهم في النار إلا واحدة وهي التي على ما أنا عليه وأصحابي. (وفي رواية) وهي السواد الأعظم (وفي رواية لهذا الحديث): وهي الجماعة رواه الترمذى

Terpecah-pecah umat Yahudi menjadi tujuh puluh satu kelompok, terpecah-pecah umat Nasrani menjadi tujuh puluh dua kelompok, dan akan terpecah-pecah umatku menjadi tujuh puluh tiga kelompok semuanya di neraka kecuali satu kelompok, yaitu kelompok yang terus konsiseten mengikuti sunnahku dan dan sunnah sahabatku. Dalam riwayat lain: Kelompok yang satu itu disebut kelompok terbesar. Dalam riwayat yang lain lagi: kelompok yang satu itu ialah Jamaah  (HR. At-Turmudzi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw bersabda:

فعليكم بِسنَّتي وسُنَّة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي

Maka berpegangeratlah pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberikan petunjuk yang hidup sesudah aku.

Dengan penjelasan tersebut, maka menjadi keharusan bagi kita untuk mengikuti faham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sebab Ahli Sunnah Wal Jamaah telah menjadikan sunnah sebagai jalan yang mengantarkan kepada agama Islam dan menjadikannya sebagai sistem hidup dan jalan yang lurus. Yaitu agama yang hanif dan mudah.

عن ابن عباس : قيل لرسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم : أي الأديان أحب إلى اللَّه ؟ قال : الحنيفية السمحة

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah ditanya: Mana agama-agama yang paling dicintai Allah? Rasulullah menjawab: Yaitu agama yang sesuai dengan fitrah manusia, yang mudah dan tidak berlebih-lebihan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

Aku diutus dengan membawa agama yang sesuai dengan fitrah manusia juga mudah tidak berlebih-lebihan.

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً رواه مسلم

Sesungguhnya aku diutus tidak untuk menghujat/melaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat berkasih sayang (HR. Muslim).

 Kapan Muncul Istilah Ahli Sunnah Wal Jamaah

Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah kelompok besar umat Islam saat ini yang tetap konsisten menjaga amalan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, Al-Hadits, Al-Ijma’, Al-Qiyas, dan mengikuti para sahabat, utamanya 4 sahabat besar, yang mempunyai sanad sampai kepada Rasulullah.

Pada masa Rasulullah SAW, masa Kekhalifahan Abu Bakar, masa Kekhalifahan Umar, dan masa Kekhalifahan Usman, umat Islam adalah satu tidak ada pengelompokan. Pada waktu itu tidak ada perbedaan, kecuali dalam 2 kelompok yaitu kelompok yang mengerti agama dan kelompok yang tidak mengerti agama. Semua umat Islam dipandu mengikuti Rasulullah dan sahabat-sahabat Rasulullah. Allah berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, yang menyebabkan kamu berpecah-pecah dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (Al-An’am: 153)

Perpecahan umat Islam baru muncul pada akhir masa kekhalifahan Usman bin Affan. Sebelum terbunuhnya Usman, umat Islam tidak ada perbedaan dalam masalah usuluddin (pokok-pokok agama). Kalau toh ada perbedaan dalam masalah fikih atau masalah-masalah furu’iyah (cabang) adalah sesuatu yang umum, dan itu bisa diselesaikan dengan Ijma’ dan musyawarah.

Ahli Sunnah muncul dan menjadi terkenal setelah terjadi pembunuhan terhadap Usman bin Affan Khalifah Ketiga. Sebutan Ahli Sunnah dimunculkan untuk mengembalikan keilmuan yang sesungguhnya.  Bahwa Ahli Sunnah adalah mereka yang ahli hadis, ahli Al-Qur’an dan mempunyai sanad sampai kepada Rasulullah SAW. Sebab pada saat itu banyak hadits yang diterima oleh masyarakat tanpa sanad dan tanpa guru yang nyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Karena tidak ada sanad yang nyambung sampai kepada Rasulullah SAW, maka banyak yang salah memaknainya dan salah menerapkan amalannya tidak sesuai dengan yang dimaksudkan, sehingga terjadi penyimpangan. Misal hanya membaca satu ayat, tanpa melihat kontek dan asbab lalu menetapkan sesorang telah menjadi kafir.

Membaca sebuah nash ayat tanpa mendapatkan penjelasan dari seorang guru bisa berpotensi salah faham, salah makna dan salah maksud dari ayat tersebut. Maka dalam beragama perlu ada guru yang punya sanad keilmuan. Disebutkan dalam Shahih Muslim, Ibnu Sirin berkata:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

Artinya: Sesungguhnya ini ilmu adalah agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambil pemahaman agama kalian.

Ibnu Sirin juga berkata:

لم يكونوا يسألون عن الإسناد، فلما وقعت الفتنة قالوا: سموا لنا رجالكم، فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم، وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم

Artinya: Mereka sebelumnya tidak pernah bertanya tentang sanad (sandaran guru). Maka ketika terjadi fitnah (bencana agama), para sahabat Rasulullah berkata: Sebutkan kepada kami ulama-ulama yang menjadi sandaran kalian, kemudian dilihat kalau itu Ahli Sunnah maka diambil haditsnya (ucapannya), dan dilihat pula kalau itu ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya (ucapannya).

Lanjut Ibnu Sirin:

فالسنة التي جاءت في كلامه هي العلم في الدين رواية ودراية، فالرواية نقل نصوص القرآن والحديث وأقوال الأئمة، والدراية العلم في الدين، فأهل السنة يراد بهم أهل العلم المشتمل على الرواية والدراية معا

Artinya: Kata “Sunnah” dimaksud pada masa itu ialah Ilmu agama, menyangkut masalah Ilmu Riwayat dan Ilmu Dirayat. Ilmu Riwayat yaitu ilmu yang membahas tentang bagaimana mengambil/menukil secara pasti dan benar nash-nash Al-Qur’an, nash-nash Al-Hadits, dan ucapan para imam besar. Ilmu Diroyat ialah keilmuan tentang bagaimana mendalami ilmu agama, yakni pemahaman dan pengamalan yang menyeluruh dan lengkap. Ahli Sunnah dimaksudkan adalah Ahli Ilmu yang menguasai Ilmu Riwayah dan Ilmu Diroyat secara bersamaan.

Keluar dari sistem yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah, itulah yang menyebabkan perpecahan, menyebabkan salah tafsir, menyebakan salah tindakan, dan salah menerapkan hukum. Sudah dipastikan, orang-orang yang tidak punya guru bersanad, akan keliru memahami nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apalagi cuma mebaca Al-Qur’an Terjemah, Al-Hadits Terjemah, dan buku-buku terjemah yang disesuaikan dengan keinginan penerjemah.

Bermula dari tidak mengikuti faham Ahli Sunnah Wal Jamaah inilah dan kesalahan memahami nash agama, maka orang-orang Islam membunuh Usman Bin Affan dengan menggunakan dalil agama. Bayangkan saja si pembunuh menancakpan pedang ke perut Usman bin Affan sambil meneriakkan ayat Al-Qur’an.

Siapakah pembunuh Khalifah Ketiga Usman bin Affan? Mereka adalah umat Islam yang datang dari Irak dan Mesir ke Madinah pada musim haji. Dikira mereka datang hendak menunaikan ibadah haji, tetapi ternyata mereka merebut masjid Haram Madinah dan menguasainya juga memblokade kediaman Khalifah Usman bin Affan sampai 40 hari, yang kemudian diakhiri dengan pembunuhan terhadap Khalifah Usman Bin Affan. Merekalah yang memahami nash tidak mengikuti pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah. Mereka memahami nash sebatas yang tertulis, mereka belajar agama tanpa guru yang bersanad, dan mereka terprovokasi oleh issu dengan memanipulasi dalil.

Pembunuhan Khalifah Usman merupakan hasil fitnah dan issu yang dihembuskan oleh Abdullah bin Saba’ kepada kaum muslimin yang kehilangan nalar. Abdullah bin Saba’ adalah seorang keturunan Yahudi yang mendalangi, mensetting, memprovokasi umat Islam untuk berdemonstrasi dan menentang Khalifah Usman bin Affan. Pengikut Abdullah bin Saba’ ini lebih layak disebut Kaum Sabaiyyah, yang menjadi cikal bakal Golongan Khawarij.

Inilah awal sejarah demonstrasi dalam Islam. Menurut riwayat, Al-Ghofiqi bin Al-Harb yang berkebangsaan Mesir datang bersama rombongan ke Madinah. Dialah yang masuk ke kamar Usman bin Affan dan menghujamkan pedang sambil membaca ayat:

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿١٣٧﴾

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-BaqarahL 137)

Itulah bahayanya orang belajar agama tanpa guru, mengikuti fatwa dari orang yang tidak jelas keilmuannya, menerima ilmu dari sepotong tulisan di internet, mendengar sekalimat dari video youtube, lalu digunakan untuk membenarkan apa yang menjadi kesukaannya atau melakukan tindakan sadis terhadap orang yang dibencinya. Sungguh benar hadits Rasulullah SAW yang menyatakan:

عن أبي هريرة يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يكون في آخر الزمان دجالون كذابون يأتونكم من الأحاديث بما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم لا يضلونكم ولا يفتنونكم  رواه مسلم في صحيحه

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: Akan datang nanti di akhir zaman para dajjal pembohong yang menyampaikan hadits-hadits (ucapan-ucapan) yang tidak pernah terdengar oleh kalian dan bapak-bapak kalian. Maka jauhkan dirimu dan jauhi mereka, sehingga mereka tidak menyesatkan kamu dan tidak mendatangkan fitnah kepada kamu (HR. Muslim).

Kapan Ahli Sunnah Wal Jamaah Menjadi Sebuah Firqah

Pada masa akhir pemerintahan Khalifah Usman bin Affan sudah muncul kelompok Khawarij yang berasal dari Kelompok Sabaiyyah (Pengikut Abdullah bin Saba’). Kemudian Kaum Khawarij ini membesar di zaman Ali bin Abi Thalib ketika menjadi khalifah pengganti Usman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad Irak. Golongan Khawarij menjadi sebuah firqah secara terang-terangan setelah terjadi perang Shiffin.

Perang Shiffin adalah pertempuran antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Muawiyah bin Abi Sofyan di bulan Safar tahun 37 H. Shiffin yaitu daerah perbatasan antara Suriah dan Irak. Penyebabnya adalah pembangkangan Penduduk Syam yang dikomandani oleh Muawiyah bin Abu Sofyan tidak akan berbaiat kepada Ali sebagai Kahlaifah kalau tidak menjalankan hukuman atas para pembunuh Khalifah Usman bin Affan. Mengetahui hal demikian, maka Ali mengutus Jarir bin Abdullah Al-Bajali untuk datang ke Syam mengajak untuk berbaiat. Saat itulah Muawiyah meminta pertimbangan kepada Amr Ibnu Al-Ash dan mendapatkan sinyal untuk keluar menuju Irak guna menuntut qisos atas kematian Usman Bin Affan.

Ali bin Abi Thalib tidak memberikan hukuman mati kepada para pembunuh Usman bin Affan, karena Ali punya pertimbangan yang masuk akal. Penduduk Syam yang dikomandani oleh Muawiyah menuntut kepada Ali agar menjalankan hukuman atas para pembunuh Khalifah Usman. Mereka bergerak hingga di Shiffin. Ali bin Abi Thalib mengirim pasukan untuk menghadapi mereka, maka terjadilah pertempuran hingga 9 hari. Di hari terakhir Ali bin Abi Thalib sendiri yang maju sebagai panglima perang dan mendapatkan kemenangan, walau kedua belah pihak sama-sama banyak jatuh korban. Saat kemenangan sudah di tangan Ali bin Abi Thalib, muncullah tipu daya oleh Amr ibn Al-Ahs dengan mengangkat panah yang diujungnya disematkan Mushaf Al-Qur’an sebagai tanda dihentikan peperangan, untuk damai dan dilakukan perundingan.

Perundingan akan segera dilakukan setelah dibentuk tim perunding yang terdiri dari wakil masing-masing fihak. Dari fihak Ali bin Abi Thalib, tim perunding dipimpin oleh Abu Musa Al-Asy’ari, dan dari tim perunding Abu Sofyan dipimpin oleh Amr Ibnu Al-Ash. Sementara orang-orang yang tidak bisa menerima kesepakatan ini, mereka memilih keluar dari Ali bin Abi Thalib dan juga tidak berpihak kepada Abu Sofyan. Mereka inilah yang terang-terangan menyebut sebagai Golongan Khawarij. Sementara itu ada kelompok yang tetap setia kepada Ali dan menolak kepemipinan yang lain, yang disebut Kaum Rafidhah.

Dengan demikian, setelah terjadinya perang Siffin itu, muncul 2 kelompok:

  1. Kelompok Khawarij, yaitu kelompok yang keluar dari Ali bin Abi Thalib dan tidak menerima adanya perjanjian yang diwakili Abu Musa Al-Asy’ari dari fihak Ali bin Abi Thalib, dan Amr Ibnu Al-Ash dari fihak Abu Sofyan. Kelompok ini punya faham mengkafirkan umat Islam yang tidak sefaham dengan mereka.
  2. Kelompok Syiah, yaitu kelompok yang mengikuti Ali bin Abi Tholib dan menyintai Ali dengan berlebih-lebihan. Di antara Faham Syiah itu ada Faham Rofidhoh. Yaitu faham yang hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, menafikan kepemipinan sahabat Abu Bakar dan Umar, dan menyatakan Ali sebagai manusia yang maksum.

Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib terus berjalan, hingga akhirnya dibunuh pada saat sedang sujud shalat Subuh oleh Abdurahman bin Muljam seorang dari Kelompok Khawarij. Abdurrahman bin Muljam semula merencakan membunuh 3 orang pemimpin, yaitu Muawiyah bin Abu Sofyan, Amr Ibnu Al-Ash dan Ali bin Abi Thalib, tetapi yang terlaksana hanya terhadap Ali bin Abi Thalib. Praktis Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah selama 5 tahun 6 bulan, dan sesudah itu digantikan oleh Al-Hasan bin Ali.

Keompok Khawarij inilah yang menjadi sumber kekacauan dalam interen umat Islam, yang mengajarkan kekerasan (radikal), yang mengkafirkan sesama umat Islam, yang menistakan umat Islam yang tidak mengikuti pemahamannya, yang menghalalkan darah sesama umat Islam yang tidak sependapat dengannya, yang memahami nash teks dalil tanpa melihat konteks dan hakikat (tidak menggunakan tafsir dan takwil ulama kecuali ulamanya sendiri). Abdurrahman Ibnu Muljam adalah golongan Khawarij, layaknya seorang muslim yang alim, yang hafal Al-Qur’an, yang memahami Al-Qur’an tanpa guru kecuali guru dari kelompoknya sendiri. Dan ketika dia membunuh Ali bin Abi Thalib dengan pedang yang beracun, dia membaca ayat:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ ﴿٢٠٧﴾

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (Al-Baqarah: 207)

Sejarah kekhalifahan terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman, juga dinamika pergulatan politik. Dan ketika perjalanan itu sampai pada abad ketiga Hijiriah, muncullah banyak sekali kelompok dan faham yang berkembang di tengah-tengah umat Islam. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan Islam itu sendiri yang merambah ke berbagai penjuru, sehingga faham-faham dan filsafat pun ikut memberi warna, di samping situasi politik pada zaman itu.

Kelompok itu banyak sekali, di antaranya:

Kelompok Murjiah.

Kelompok Qadariyah.

Kelompok Jabbariah.

Kelompok Jahmiyah.

Kelompok Mujassimah.

Kelompok Muktazilah.

Dan ketika masa kekhalifahan atau pemerintah sudah kehilangan demokrasi dan tidak lagi berlaku asas musyawarah, faham Muktazilah sudah menjadi faham yang diikuti oleh pemerintah. Tidak ada ulama yang berani mengeluarkan pendapatnya. Sejarah mencatat betapa banyaknya ulama yang dipenjarakan karena mengkritik dan beda pendapat dengan khalifahnya. Saat itulah muncul gerakan kembali kepada As-Sunnah melawan Bid’ah dan gerakan kembali kepada ajaran dan prilaku para sahabat yaitu berjamaah, yang kita kenal Ahli Sunnah Wal Jamaah. Gerakan Ahli Sunnah Wal Jamaah ini dipelopori 2 tokoh mujtahid besar, yaitu:

  1. Abu Hasan Al-Asy’ari (260 – 324 H / 874 – 936 M), lahir di Baghdad dan mempunyai nasab sampai kepada Abu Musa Al-Asy’ari sahabat Rasulullah SAW.
  2. Abu Mansur Al-Maturidi (Wafat tahun 333 H), lahir di Samarkand dan mempunyai nasab sampai kepada Abu Ayyub Al-Anshari sahabat Rasulullah SAW.

Imam Muhammad Zahid Al-Kautsari berkata: Al-Asy’ari dan Al-Maturidi adalah dua Imam Ahli Sunnah Wal Jamaah di dunia timur dan dunia barat. Mereka memiliki kitab tulisan yang tak terhitung.

Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi dalam syarah Kitab Ihya’ Ulumuddin berkata: Ketika diucapkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah pengikut Al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Dan ketika di tempat lain disebut Ahli Sunnah, yang dimaksud adalah 4 kelompok Ahli Hadits, Ahli Tasawuf, Pengikut Al-Asy’ari dan Al-Maturidi.

Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menetapkan sebuah hukum selalu mengambil jalan tengah, yaitu sebuah manhaj yang tidak secara total menolak Muktizailah, tidak total menolak Qadariyah, Jabbariah, Khawarij dan Rawafidh.

Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam pengamalan fikih mengikuti madzhab ulama salaf yaitu: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Sungguh pun Ahli Sunnah Wal Jamaah sudah menjadi semacam acuan dan kesepakatan umat Islam terbesar  di dunia, dan Ibnu Taimiyah juga menyatakan diri sebagai bagian dari Ahli Sunnah Wal Jamaah, tetapi ternyata apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah tidak sejalan dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah, termasuk murid-muridnya.

Ibnu Taimiyah dan pengikutnya terang-terangan mengkafirkan Asy’ariyah (Abu Hasan Al-Asy’ari dan pengikutnya) dan Muaturidiah (Abu Manshur Al-Maturidi dan pengikutnya).  Ibnu Taimiyah juga mengharamkan bermadzhab atau mengikuti madzhab seperti Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Mengikuti madzhab bagi Ibnu Taimiyah dianggap taklid, yang berarti tidak mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits. Yang selalu diwajibkan oleh Ibnu Taimiyah ialah hanya mengikut apa yang ada dalam Al-Qur’an dan yang ada dalam Hadits Rasulullah. Menurutnya orang lain selain pengikutnya, tidak ada guru yang layak kecuali berguru kepada Rasulullah, atau hanya berguru kepadanya (kelompoknya). Mereka juga menyerang dan mengkafirkan ahli Tafsir yang tidak mengikuti tafsirnya. Salah satu yang diberikan label kafir dan keluar dari Islam adalah penulis kitab At-Tafsir Al-Kabir Mafatihul Ghaib Syekh Al-Fakhrur Rozi. Ibnu Taimiyah juga menyesatkan orang-orang yang mengamalkan ajaran Taswuf.

Ibnu Taimiyah inilah yang menjadi rujukan faham Wahhabiyah. Maka menjadi nyata bahwa Wahhabiyah tidaklah bisa dikatakan Ahli Sunnah Wal Jamaah, walau dalam berbagai forum pengikut Wahhabiyah menyebut dirinya Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Secara tegas Ibnu Hajar dalam kitab Al-Fatawa Al-Haditsah menyebutkan: Ibnu Taimiyah seorang yang dihinakan Allah, disesatkan Allah, dibutakan Allah dan ditulikan Allah. Dengan begitu, para ulama/imam mujtahid menjeleskan kerusakan tingkahnya dan kebohongannya. Barangsiapa yang ingin tahu persisi hendaknya melakukan penelitian pada kata-kata para Imam Mujtahid Syeikh Abu Hasan As-Subki dan ulama-ulama yang semasanya (https://salafeia.wordpress.com).

Salah seorang Syaikh Al-Azhar Dr. Karimah menyatakan: Pengikut Wahabiyah, mereka mengikutu agama Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka tidak mengikuti agama Muhammad bin Abdullah (http://alwaght.com/ar/News/66565).

Wahhabiyah adalah faham yang dibawah oleh Muhmmad bin Abdul Wahhab pada abad ke 18 Masehi. Mufti Makkah Syeikh Zaini Dahlan di masa Kesultanan Turki sudah menyatakan bahwa saudara Muhammad bin Abdul Wahhab yang bernama Syeikh Sulaiman Bin Abdul Wahhab dan orang tuanya telah mengakui kesesatannya. Bahkan guru-gurunya di Madinah juga menyatakan demikian. Muhammad bin Abdul Wahhab sudah masuk menjadi golongan Khawarij.

 Ahli Sunnah Wal Jamaah Menjadi Indentias Muslim Indonesia

Menurut catatan sejarah, Islam masuk ke Indonesia sebenarnya sudah sejak tahun 674 Masehi, tepatnya di Kerajaan Kalingga Jepara dibawa oleh saudagar-sudagar Arab. Tetapi pada saat itu Islam tidak bisa berkembang. Hal demikian karena sistem dakwah yang disampaikan tidak merangkul, cenderung menyerang dan menyalah-nyalahkan mayarakat yang sudah memeluk agama sebelumnya, sehingga masyarakat menjadi antipati dan menyerang balik. Akibatnya para dai yang datang waktu itu lama-lama berkurang dan habis.

Baru sejak abad 13 M, Islam mulai bisa diterima oleh masyarakat, karena dakwah yang disampaikan menyejukkan dan tidak menghilangkan atau menghapus keberagaman dan budaya kearifan lokal yang ada. Dan itu dilakukan oleh para dai dan ulama yang berfaham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Mereka adalah para ahli tasawuf yang berdakwah dengan menampilkan contoh moral dan solusi permasalahan keumatan. Dalam perjalanan kemudian, tercatatlah para pejuang agama dan penyebar agama di Nusantara itu dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Fakta itulah yang mendasari bahwa umat Islam Nusantara dari zaman Wali Songo hingga saat ini adalah pengikut faham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Belakangan mulai hadir umat Islam di Indonesia yang tidak mengikuti faham Ahli Sunnah Wal Jamaah, misal Syiah, Ahmadiyah, Wahhabiyah dan sebagainya.

Ciri-ciri Ahli Sunnah Wal Jamaah di Indonesia sudah disebutkan di atas. Namun agar menjadi lebih spesifik dan menjadi khas, maka Nahdlotul Ulama memberikan panduan bagi para Pengikut Ahli Sunnah Wal Jamaah. Di antaranya:

Dalam masalah-masalah akidah, Ahli Sunnah Wal Jamaah mengikuti:

1.Imam Abu Hasan Al-Asy’ari.

2.Iman Abu Manshur Al-Maturidi.

Dalam masalah-masalah fikih, Ahli Sunnah Wal Jamaah mengikuti:

1.Mazhab Imam Abu Hanifah.

2.Mazhab Imam Malik.

3.Mazhab Imam Syafi’i.

4.Mazhab Imam Hanbali.

Dalam masalah Akhlak dan Tasawuf, Ahli Sunnah Wal Jamaah mengikuti:

1.Imam Hasan Al-Bashri.

2.Imam Al-Ghozali.

2.Imam Abul Hasan Asy-Syadzali.

3.Imam Junaid Al-Bahgdadi.

4.Imam Syekkh Abdul Qadir Al-Jailani.

5.Imam-iman lain yang sanadnya sampai Rasulullah.

Ahli Sunnah Wal Jamaah Harus Bermadzhab

Tidak semua orang bisa memahami isi Al-Qur’an dan tahu banyak hadits Rasulullah SAW. Tidak semua umat Islam bisa berbahasa Arab dan punya kesempatan belajar ilmu pendukungnya, dimana bahasa Arab merupakan induk kitab agama Islam, bahasa Arab menjadi bahasa pokok kitab syariat Islam. Tidak semua orang bisa berijtihad dalam masalah agama. Karena itulah maka umat Islam cukup mengamalkan apa yang disampaikan oleh para mujtahid. Karena tidak punya kemampuan untuk memahami nash, apalagi berijtihad, maka demi bisa menjalankan syariat agama, umat Islam wajib taqlid.

Pengertian Takqlid menurut bahasa adalah dari kata qiladah, yaitu dadung atau tambang yang diikatkan pada binatang supaya mudah dituntun ikut ketika mau dipotong.

Taqlid menurut Syekh Al-Jurjani:

عبارة عن اتباع الإنسان غيره فيما يقول أو يفعل، معتقدًا للحقيقة فيه، من غير نظر وتأمل في الدليل

Penggambaran dari turut sertanya seseorang kepada orang lain dalam hal apa yang diucapkan dan dilakukan, dengan penuh keyakinan tanpa melihat dan memikirkan dalil.

Taklid dalam pengertian agama ada 2, yaitu:

1.Melakukan tindakan berdasarkan ucapan orang tanpa dasar atau dalil yang semestinya. Ini tidak boleh sama sekali.

2.Melakukan tindakan mengikuti ucapan para mujtahid tanpa mengetahui dalilnya secara lengkap. Ini boleh dan bahkan malah bisa menjadi keharusan.

Ulama sepakat disyariatkannya taklid dan wajib taqlid ketika tidak mungkin bisa berijtihad. Ketika seseorang mengambil ucapan mujtahid sebagai dasar amalan, bukan berarti kata-katanya itu dalil, tetapi kaka-katanya itu keluar dari dalil yang sudah diijtihadkan.

Imam Asy-Syathibi dalam Kitab Al-Muwafaqat berkata:

Fatwa para mujtahid bagi orang umum seperti dalil syar’i bagi para mujtahid. Dasarnya adalah wahwa wujudnya dalil bagi orang yang taqlid, atau ketiadaannya dalil itu sama, karena orang yang taqlid itu tidak bisa mengambil manfaat dari dalil sama sekali. Mengambil istinbat dan mencari dalil bukan urusan mereka. Allah telah menyatakan: Maka bertanyalah kepada ahli zikir jika kamu tidak tahu. Orang yang taqlid tidak punya ilmu, maka tidak sah baginya kecuali bertanya kepada ahlinya. Para ahli bagi orang yang taqlid menjadi rujukan dalam hukum-hukum agama secara mutlak. Di sinilah para mujtahid tadi berdiri sebagai pemberi syariat, dan ucapan-ucapannya juga menduduki pemberi syariat.

Manhaj Ahli Sunnah Wal Jamaah

Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menjalankan ibadah, menetapkan hukum, menata kehidupan (urusan dunia dan akhirat), bertindak dan berinteraksi/bersosialisasi dengan masyarakat lokal, nasional dan internasional berpegang teguh pada agama yang menjadi fitrah manusia.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿الروم: ٣٠﴾

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama; yaitu fitrah Allah yang ditetapkan atas manusia. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Rum: 30)

Disebutkan dalam hadis:

عن ابن عباس : قيل لرسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم : أي الأديان أحب إلى اللَّه ؟ قال : الحنيفية السمحة

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah ditanya: Mana agama-agama yang paling dicintai Allah? Rasulullah menjawab: Yaitu hanifiyyah dan samhah.

Hanifiyyah artinya lurus menghadap Allah dan menjunjung tinggi kehormatan manusia selaras dengan fitrahnya. Assamhah artinya mudah tidak memberatkan, sehingga manusia merasa lapang dan lega.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

Artinya: Aku diutus membawa agama hanifiyyah dan samhah.

Agma Hanifiyyah dan Samhah tersebut kemudian terkonfirmasi dalam pernyatan Allah dan Rasulullah sebagai “Rahmatan Lil Alamin.”  Disebutkan dalam hadits, suatu hari Rasulullah diminta untuk mendoakan orang-orang musyrik supaya diazab Allah, tetapi Rasulullah menolaknya, lalu bersabda:

اني لم ابعث لعانا وإنما بعثت رحمة

Sungguh aku tidak diutus untuk melaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat (HR. Muslim).

Rahmatan lil alamin adalah asas interaksi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Maka Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menjalankan ajaran agama, mengambil istinbat, menentukan fatwa, bersosialisadi dengan masyarakat lokal, nasional dan internasional menerapkan manhaj (sistem dakwah) sebagai berikut:

  1. At-Tawassuth = Moderat. Ahli Sunnah Wal Jamaah berpihak kepada kemanusiaan setiap manusia, itulah yang disebut moderat. Baca Surat Al-Baqarah ayat 143.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً ﴿ البقرة: ١٤٣﴾

Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, UMMAT WASATHA (moderat) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu (Al-Baqarah: 143).

  1. At-Tawazun = Keseimbangan. Ahli Sunnah Wal Jamaah mengambil posisi yang seimbang, jalan dunia dan jalan akhirat, jalan jasmanai dan jalan ruhani. Baca Surat Al-Hadid ayat 25.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ﴿ الحديد: ٢٥﴾

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca keseimbangan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan (Al-Hadid: 25).

  1. Al-I’tidal = Adil. Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam bersikap tidak dipengaruhi oleh nafsu, tetapi adil dalam memberikan penilaian kepada semua pihak sekalipun terhadap orang yang dibenci. Baca Surat Al-Maidah ayat 8.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿ المائدة: ٨﴾

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu berdiri tegak karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Maidah: 8).

  1. At-Tasamuh = Toleran. Ahli Sunnah Wal Jamaah memiliki tenggang rasa yang tinggi dan menerima uzur dari berbagai fihak. Tenggang rasa bukan berarti mengikuti kebenaran fersi fihak lain, memberi maaf kepada pihak yang dianggap salah, dan tetap menghargai perbedaan. Baca Surat Thoha ayat 44, Al-A’rah ayat 199.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿ الاعراف: ١٩٩﴾

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh (Al-A’raf: 199).

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿النور: ٢٢﴾

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (An-Nur: 22)

  1. Al-Musawah = Kesamaan/Sejajar. Ahli Sunnah Wal Jamaah menganggap bahwa setiap manusia punya kedudukan yang sama, maka Ahli Sunnah Wal Jamaah menghargai, tidak menghina kelompok lain dan tidak merasa paling benar. Baca Surat Al-Hujurat ayat 11-13.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿ الحجرات: ١٢﴾

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (Al-Hujurat: 11).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Al-Hujurat: 12).

  1. Al-Aulawiyah (Afdhaliah) = Mengambil atau melakukan amalan-amalan yang ada keutamannya, atau memilih sesuatu yang lebih utama. Di dalam hidup ini adalah pilihan. Jika di antara sekian banyak, ada yang dianggap lebih utama (prioritas) daripada yang lainnya, maka yang lebih baik itulah yang diambil. Baca firman Allah:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿التوبة: ١٩﴾

Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim (At-Taubah: 19)

  1. Al-Mashlahah = Kebaikan. Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menentukan sikap dan tindakan selalau melihat sisi kemaslahatan umum, atau kemaslahatan yang lebih besar. Baca firman Allah Surat Hud ayat 88:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىَ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقاً حَسَناً وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ﴿٨٨﴾

Syu`aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Toleransi ada dalam 4 hal:

  1. Toleransi dalam hal materi/amalan.

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿البقرة: ١٩٥﴾

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Al-Baqarah: 195)

قُلْ أَتُحَآجُّونَنَا فِي اللّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ ﴿البقرة: ١٣٩﴾

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati (Al-Baqarah: 139)

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (Al-Qoshosh: 55)

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ ﴿الشورى: ١٥﴾

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)” (Asy-Syura: 10)

  1. Toleransi dalam hal ras/keturunan

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ ﴿ الروم: ٢٢﴾

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (Ar-Rum: 22)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿الحجرات: ١٣﴾

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al-Hujurat: 13).

  1. Toleransi dalam hal pemikiran.

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿النحل: ١٢٥﴾

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl: 125).

  1. Toleransi dalam agama.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد من الغي ﴿البقرة: ٢٥٦﴾

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat (Al-Baqarah: 256)

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلاً ﴿الاسراء: ٨٤﴾

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (Al-Isra’: 84)

ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى ﴿النجم: ٣٠﴾

Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk (An-Najm: 30)

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ﴿النجم: ٣٢﴾

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (An-Najm: 32)