021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

KITA AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH

Kita semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita semua akan mebali ke asal. Fisik yang asalanya dari tanah akan kembali ke tanah. Ruh yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Kita hidup di dunia ini adalah menjalani proses perjalanan untuk kembali kepada Allah. Porses yang kita jalani ini sangat singkat waktunya. Sungguhpun singkat, apa yang kita kerjakan di sini sangat menentukan, karena itulah yang menjadi bekal untuk bisa bertemu Allah. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً ﴿١١٠﴾

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi: 110)

Bekal kita untuk berjumpa Allah adalah amal shaleh dan ibadah yang ikhlas. Amal shaleh dan ibadah itu dimulai sejak baligh sampai meninggal dunia. Sejak baligh itulah taklif Allah diterapkan. Sejak baligh itulah kewajiban diberlakukan. Sejak baligh itulah amal-amal shaleh dan amal-amal salah diperhitungkan. Maka sejak baligh hingga saat ini kita bekerja keras untuk membangun kesejahteraan hidup dan mengumpulkan bekal untuk kebahagiaan di akhirat. Sejak baligh sampai sekarang kita terus bekerja, beramal shaleh dan menebarkan keshalehan kepada sesama.

Bagi kita yang sudah usia tua, lima puluh tahun, enam puluh tahun, tujuh puluh tahun, delapan puluh tahun atau lebih dari itu dan sudah pensiun dalam pekerjaan dinas, kita boleh menikmati pensiunan, tetapi kita tidak boleh pensiuan untuk mengumpulkan bekal akhirat. Justru saat pensiun itulah kita bisa bekerja full time untuk Allah, berbagi kebaikan, rajin shalat berjamaah, rajin mendatangi majlis pengajian, rajin silaturrahmi, rajin shalat sunnah dan sebagainya. Karena hanya amal-amal shaleh itulah yang akan dibawa nanti.

Ada sebuah kisah. Bisa jadi kisah ini kisah nyata, atau kisa imajinatif, tetapi sungguh substansinya patut untuk kita renungkan. Adalah seorang ayah yang sudah sukses dalam perjuangan hidupnya sejak usia baligh. Dia mempunyai perusahaan besar, anak-anaknya lulus perguruan tinggi ternama dan telah mapan hidupnya. Tanggung jawabnya terhadap anak telah ditunaikan sebagaimana mestinya. Anak-anak telah dinikahkan, diberikan rumah dan hak-haknya.

Suatu hari, sang ayah memanggil anak-anaknya untuk berkumpul di rumah. Dalam pertemuan itu sang ayah berkata: “Anak-anakku, sekarang ayah sudah tua. Tugas ayah terhadap kalian sudah ayah tunaikan, mendidik kalian, menyekolahkan kalian dan menikahkan kalian. Ayah berjuang sejak baligh sampai sekarang ini semua untuk kalian. Sekarang ayah pesan kepada kalian. Ayah punya kaos kaki yang sudah bolong yang menjadi saksi perjuangan ayah dan tersimpan di lemari. Tolong nanti kalau ayah meninggal dunia, pakaikan kaos kaki itu sebelum ayah dikafankan. Itu saja pesan ayah.”

Waktu terus berjalan. Sang ayah meninggal dunia. Tentu saja anak-anak akan melaksanakan wasiat tersebut. Tetapi ustadz yang menangani jenazah tidak mengizinkan untuk memakaikan kaos kaki kepada jenazah. Terjadilah ketegangan antara anak-anak dengan ustadz. Saat itu datanglah seorang notaris yang membawa sebuah amplop putih yang tertutup rapat. Rupanya amplop itu dititipkan kepada notaris dengan janji agar tidak dibuka kecuali nanti ketika jenazah sedang dalam proses pengkafanan.

Amplop itu segera dibuka oleh anak-anaknya, lalu dibaca tulisannya: “Anak-anakku, ayah tahu bahwa pesan ayah ini akan ditolak oleh ustaz yang mengkafankan jenazah ayah. Ayah hanya ingin memberi pelajaran kepada kalian bahwa orang yang meninggal dunia itu tidak membawa harta, kaos kaki yang bolong saja tidak boleh dibawa, apa lagi uang atau mobil. Cukup sekian”

Hikmah apa yang kita dapatkan dari kisah ini?

Hikmat yang pertama, bahwa sesungguhnya yang diperjuangkan orang tua dan apa yang dihasilkan oleh orang tua adalah untuk anak-anaknya. Orang tua punya tanggung jawab memberikan pendidikan terbaik buat anak-anaknya, orang tua punya tanggung jawab memberikan pengajaran agama dan nilai-nilai keadaban kepada anak-anaknya, sehingga kelak mereka menjadi generasi yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup.Anak-anak kuat agamanya dan kuat ekonomi atau kesejahteraannya. Jangan sampai orang tuan meninggal, anak-anak sengsara hidupnya. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً ﴿٩﴾

Artinya: Dan hendaklah orang-orang itu takut seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Hikmah yang kedua. Anak harus berbakti kepada kedua orang tua dan mensyukuri keberadaannya. Anak harus mampu mebahagiakan orang tua. karena sepanjang umurnya orang tua selalu berpikir untuk anak-anaknya. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa’ ayat 23:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً ﴿٢٣﴾

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Fenomenya sekarang adalah, bahwa seorang ayah mampu mensejahterakan 7 anaknya. Tetapi 7 anak belum tentu bisa mensejahterkan seorang ayah. Seorang ibu bisa mengurus 7 anaknya, tapi 7 anak tidak bisa mengurus seorang ibu. Orang tua sepanjang hayatnya dipakai untuk membahagiakan 7 anak-anaknya, tetapi 7 anak belum tentu bisa membahagiakan anaknya. Demi anak, orang tua bercerita apa saja dan siap berbicara apa saja dan kapan saja. Sekarang ketika anak itu sudah besar, jarang sekali anak mengajak bicara orang tua, jangankan menanya keadaan orang tua atau melihat wajah orang tua, ditelepon saja beralasan sibuk minta ditunda.

Inilah fakta yang layak kita tangisi di era moderen ini. Jangankan mengurus, menengok saja tidak punya waktu. Jangankan bisa mengajak bercanda dan bicara, ditelepn saja bilang maaf sedang ini dan sedang itu. Jangankan hidup bersama, menatap wajah orang tua saja rasanya sudah malas. Apalagi semakin tua seseorang akan semakin aneh-aneh kelakuannya, kadang marah-marah, kadang ngomel, kadang menjengkelkan. Pernahkan kita menengok wajah ibu kita atau bapak kita di saat tidur. Pernahkan kita merasa bangga saat melihat wajah orang tua yang sudah kisut dan rambutnya penuh uban. Tidak sadarkah bahwa melihat wajah orang tua sangat besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda: “Melihat wajah orang tua dengan penuh kasih sayang berpahala sama dengan pahala haji mabrur.” Seorang sahabat bertanya: Ya Rasulul kalau melihat sehari seratus kali bagaimana? Rasulullah menjawab: “Ya, pahalanya seratus kali haji mabrur.”

Hikmah yang ketiga. Bahwa siapapun kita dan sehebat apapun kita, saat meninggal dunia, kita tidak membawa apa-apa. Kaos kaki saja tidak dibawa, apalagi rumah, mobil, dan harta benda. Apapun yang ada pada kita saat ini, hakikatnya bukan milik kita, karena semua itu tidak kita bawah saat meninggal dunia. Uang yang banyak di bank, itu hanya atas nama saja. Rumah yang mewah, itu hanya tempat berteduh sementara. Mobil yang kita beli mahal itu hanya tumpangan sementara.

Rasulullah Saw bersabda:

ليس من مالك الا ما اكلت فافنيت او مالبست فابليت اوما تصدقت فامضيت

Tidak ada harta milikmu kecuali apa yang kamu makan, kemudian kamu menjadikan barang terbuang rusak. Atau apa yang kamu pakai, kemudian kamu jadikan barang rongsokan. Atau apa yang kamu sedekahkan, kemudian kamu lewatkan untuk hari kemudian.

Ali bin Abi Thalib berkata:

اموالنا لذوى الميراث نجمعها ودورنا لخراب الدهر نبنيها
له ملك ينادي كل يوم لدوا للموت وابنوا للخراب

Harta yang kita kumpulkan itu hanya untuk ahli waris.
Rumah yang kita bangun hanya akan rusak ditelan masaa.
Sementara itu, ada malaikat yang menyeru setiap hari
Lahirlah kamu untuk mati, dan membangunlah untuk diruntuhkan.