021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

PLURALITAS DAN PRAKTIK KEAGAMAAN

Melului WA, seseorang ibu minta bantuan bisa wawancara dengan Pengurus Masjid Al-Ihsan dan jamaahnya. Yang akan melakukan wawancara adalah anak-anak dari Yayasan Budi Siswa Sekolah Menengah Pertama Kanisius kelas 9 dalam rangka ujian praktik keagamaan. Permintaan ini diajukan dengan setengah hati, diterima atau tidak ya. Saking inginya untuk bisa diterima, sampai memberikan pilihan bahwa penerimaan anak-anak yang akan wawancara dilakukan di halaman masjid atau di luar masjid saja. Mengapa sampai begitu? Karena dari pemberitaan, Ibu yang meminta ini menangkap pesan bahwa orang yang tidak seagama dianggap kapir dan harus diperangi oleh orang Islam, naudzu billah.

Senin tanggal 12 Maret 2018 jam 5 sore, 3 anak yang didampingu salah satu orang tuanya di ruang rapat Masjid Al-Ihsan. Wawancara dimulai dari jam 5 sore sampai menjelang Maghrib dan dilanjutkan kembali sesudah shalat Maghrib dengan 10 orang jamaah masjid. Hadir ikut diwawancara Bapak HM. Pian Tandjoeng Ketua Umum, dan Bapak Rudy Kamal Ketua Bidang Ibadah.

Mengawali pembicaraan, saya minta kepada orang tua yang mendampingi anak-anak untuk menyampaikan apa maksud kunjungannya ke Masjid Al-Ihsan. Dalam pengantarnya, orang tua murid ini (Bapak Anton) menjelaskan bahwa anak-anak dari SMP Kanisius ini sedang mendapatkan tugas PRAKTIK AGAMA yang merupakan bahan materi ujian dengan melakukan kunjungan kepada teman-teman dan saudaranya yang tidak seagama, khususnya ke Pesantren-pesantren, Sekolah-sekolah Islam (Madrasah) dan Masjid-masjid. Dalam kunjungan ini mereka akan bertanya tentang “Keberagaman, Pluralitas, Toleransi, Radiakalisasi, Hoax dan Bagaimana prakrek, penanggulangannya, dan pencegahannya.”

Kunjungan mereka di pesantren justu mendapatkan sambutan yang hangat. Orang-orang Pesantren yang kaji agamanya lebih dalam, jutru sangat welcome, menyiapkan tempat untuk bermalam dan memberi kesempatan anak-anak dari agama lain melihat aktivitas kesehariannya. Sebaliknya, justru di Jakarta ada sebuah masjid yang menolak menerima mereka, karena menganggap mereka tidak seagama, dan mereka adalah musuh.
Mewakili Pengurus Masjid Al-Ihsan, dan sekaligus sebagai pribadi yang mengaku beragama Islam walaupun tidak sepenuhnya muslim, saya sesungguhnya sangat senang mendapat kunjungan anak-anak dari kalangan Nasrani, yang tidak seagama. Semestinya orang-orang Islam juga melakukan kunjungan seperti mereka, anak-anak sekolah Islam berkunjung ke sekolah-sekolah Katolik/Kristen atau agama lain. Jamaah masjid mau berkunjung ke tempat-tempat ibadah lain. Hanya orang bodoh yang menganggap sekedar kunjungan persaudaraan bisa merusak iman. Hanya orang yang kurang wisata yang menganggap jika masjid-masjid haram dikunjungi oleh orang-orang yang beragama lain. Hanya orang-orang yang cetek imannya, kalau ada orang beragama lain masuk masjid dituduh sebagai penistaan agama.

Dikisahkan oleh Ibnu Hisyam dalam “As-Sirah An-Nabawiyah”, bahwa Nabi Muhammad pernah menerima kunjungan para tokoh Kristen Najran yang berjumlah 60 orang. Menurut Muhammad Ibnu Ja’far Ibn Al-Zubair, ketika rombongan itu sampai di Madinah, mereka langsung menuju Masjid. Saat itu Nabi Muhammad sedang shalat Ashar berjamaah bersama para sahabatnya. Mereka datang memakai jubah dan surban, pakaian yang juga lazim digunakan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ketika waktu kebaktian tiba, mereka pun tak harus mencari gereja. Nabi memperkenankan mereka untuk melakukan sembahyang di dalam Masjid. Berdasarkan peristiwa ini, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah memberikan kesimpulan bahwa Ahli Kitab dibolehkan masuk ke dalam masjid dan bahkan dibolehkan melaksanakan kebaktian di masjid.

Bagi umat Islam, tidak ada kendala teologis masuk ke rumah ibadah agama lain. Karena dalam ajaran Islam semua permukaan bumi, asalkan suci dari najis, dapat dijadikan tempat ibadah dan sujud menyembah Allah. Argumen ini juga didasarkan pada kisah Khalifah Umar ibnu Al-Khattab waktu pergi ke Yerussalem. Khalifah kedua ini telah melakukan profeliferasi ajaran Islam di luar batas-batas normativitas agama yang dipahami oleh kebanyakan orang Islam pada umumnya. Umar bin Al-Khattab masuk ke Bait Al-Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (termasuk gereja tertua dalam bahasa Arab disbut Al-Qiyamah) lalu berhenti di plazanya. Waktu sembahnya pun tiba, maka dia katakan kepada Patriakh: “Aku hendak shalat.” Jawab Patriakh: “Semabahyanglah di tempat Anda berdiri.” Umar menolak, kemudian mendirikan shalat sendirian di anak tangga yang ada pada gereja. Penolakan Umar tidak mau shalat di gereja bukan karena landasan teologis, tetapi secara etis Umar perlu menjaga keamanan gereja sehingga tidak ada dugaan bahwa gereja itu telah direbut oleh Umat Islam di kelak kemudian. Bayangkan saja kalau dulu Umar shalat di dalam gereja, maka umat Islam yang bernalar pendek akan menyimpulkan itu gereja harus diubah menjadi masjid…. kan konyol….