021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

MEMAHAMI TAQDIR DAN MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.

أما بعد:فيا عباد الله اوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

Saudara-saudaraku di mana saja berada, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ketahuiilah bahwa setiap yang wujud di dunia ini punya sifat dan karakter masing-masing.

Lahar gunung berapi punya sifat dan karakter panah membara membakar dan mematikan apa saja yang ditimpanya. Masih ingatkah luncuran kawah Gunung Merapi di Yoyakarta…? Saat itu pemerintah mengingatkan agar masyarakat yang ada di dalam radius 5 km mengungsi. Namun ada orang yang sungguh sangat yakin dan beriman karena selama ini telah bersahabat dengan gunung itu. Dan ternyata lahar itu tidak pilih kasih. Lahar panas itu tetap meluncur tak mengenal sahabat, sanak saudara atau bukan, apapun dan siapapun yang tidak minggir akan dilibasnya. Dan Mbah Marijan tidak terhindarkan, inna lillahi wainna ilaihi rojiun.

Kini sedang meluncur wabah Covid-19 yang punya sifat dan karakter menulari siapa saja yang dekat dengannya. Wabah ini bak topan yang tidak bisa dibendung. Dia tidak kenal sahabat atau bukan. Dia tidak pilih kasih, dokter ahli kesehatan atau bukan. Dia tidak membedakan siapa ahli ibadah atau bukan. Dia tidak memilih-milih siapa yang beriman atau tidak beriman. Maka ketika pemerintah sudah mengingatkan datangnya wabah, janganlah merasa paling beriman dan menentang, karena bisa bernasib seperti Mbah Marijan.

Saat ini orang-orang yang membandel dan abai terhadap peraturan pemerintah selalu menyandarkan pada keimanan kepada Allah, bahwa semua musibah yang menimpa adalah ketentuan Allah, mengapa harus takut, mengapa harus meninggalkan jamaah shalat di masjid…? Inilah mereka yang disebut golongan Jabbariah atau aliran Vatalisme yang menyerahkan semua pada nasib (aliran sesat). Dengan faham ini mereka mengklaim sebagai kelompok yang paling beriman dan paing tawakkal. Dan betul mereka punya dalil, tidak salah dalilnya, tetapi salah menerapkannya. Satu diantara dalil yang disampaikan ialah:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿٥١﴾

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (Surat At-Taubah: 51).

Dengan dalil ini mereka menentang peraturan pemerintah, dan merasa paling beriman, lalu menuduh orang yang mengikuti pemerintah dianggap tidak beriman. Dengan dalil ini mereka seakan paling beragama dengan tetap shalat berjamaah dan kumpul-kumpul dalam majlis taklim. Padahal kalau mereka mau membaca ayat sebelumnya, mereka akan tahu, bahwa ayat ini adalah jawaban untuk menghibur atas kejadian yang sudah dialami. Artinya, karena itu sudah terjadi, maka katakan: ” Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” Kita tidak bisa mengatakan itu takdir, sebelum terjadi, karena yang tahu takdir kita sebelum terjadi hanyalah Allah.

Betul semuanya telah ditentukan oleh Allah. Tetapi apakah Anda tahu kalau ketentuan Allah itu dikaitkan dengan sebab dan akibat…? Menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah, ketentuan Allah (Takdir) itu ada 2 macam. Yaitu Mubrom (pasti/mutlak) dan Mu’allq (tergantung/bisa berubah). Karena kita tidak tahu takdir kita seperti apa, maka kita wajib berusaha. Kita tidak tahu apakah Covid-19 bakal sampai kepada kita atau tidak, maka kita wajib menghindarinya.

Kenapa menghindari, karena kita tahu takdirnya COVID-19 itu menular dan tidak pandang bulu. Jadi kalau kita sudah tahu macan itu akan menggigit dan mengoyak-ngoyak tubuh, maka jangan karena keimanan kita yang kuat kepada Allah lalu kita berani mendekati macan. Coba saja kalau berani….

Perlu dijelaskan, kenapa shalat di masjid berjamaah dilarang saat ini? Kenapa kok dilarang? Bukannya shalat itu perintah Allah, terus keimanannya di mana?

Di sinilah kita perlunya belajar ilmu pada guru secara langsung yang memiliki keilmuan dalam berbagai bidang. Dalam hal ini shalat atau hukum shalat berjamaah di masjid, itu kajinya adalah ILMU FIKIH, bukan ILMU TAUHID. Orang yang berilmu Tauhid saja tiba-tiba bicara ILMU FIKIH, ya nggak nyambung. Kenapa ngga nyambung…? Karena Ilmu Tauhid itu yang dikaji masalah batin atau soal keyakinan. Sementara Ilmu Fikih itu bicara soal hukum yang berkaitan dengan perbuatan fisik/badan, bukan perbuatan hati.

Apa itu Ilmu Fikih?

العلم بالاحكام الشرعية العملية من ادلتها التفصيلية

Yaitu Ilmu tentang hukum-hukum Syariat yang bersifat amaliah perbuatan fisik dengan mengambil dalil-dalil secara terperinci.

Jadi kajian Ilmu Fikih itu berkisar pada seluruh berbuatan lahir manusia, tindakan dan muamalah. Perbuatan hati tidak bisa dijadikan dasar hukum dalam Islam. Jika hati anda tidak senang pada sesuatu, maka ketidak senangan itu tidak bisa dijadikan dasar hukum. Maka jangan menghukumkan ini haram cuma dengan dasar tidak senang pada seseorang. Perbuatan seseorang dikatakan haram, itu yang menentukan adalah ILMU FIKIH dan harus ada dalilnya.

Ilmu Fikih selalu mendasarkan pada maslahat (kebaikan) dan madharat (bahaya). Dalam siatuasi berbahaya (madharat), hal yang tadinya wajib bisa menjadi haram dilakukan, apalagi kalau cuma sunnah atau fardhu kifayah. Sebaliknya yang tadinya haram juga bisa menjadi wajib. Itu karena ada sebab yang diterima oleh syariat.

Anjuran Ulama atau larangan Pemerintah untuk tidak shalat berjamaah atau larangan shalat berjamaah di Masjid karena ada bahaya yang besar mengancam keselamatan jiwa, atau mengancam kematian. Dalam Islam, keselamatan jiwa harus diutamakan daripada hanya sekedar memperoleh kebaikan. Dalam Kaidah Fikih dikatakan:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Artinya: Menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kebaikan.

Covid-9 adalah kerusakan. Pahala shalat berjamaah adalah kebaikan. Maka menolak kerusakaan diutamakan daripada mendapatkan pahala. Dan karena itu shalat berjamaah di masjid ditinggalkan demi menghindari kerusakan.

Akhirnya saya mengajak,  dalam situasi seperti sekarang ini kita tetap waspada dan optimis yakin kepada Allah, bahwa setiap kesulitan pasti diberikan jalan keluarnya, badai pasti berlalu. Kita ikuti pesan ulama yang bisa dipertanggung jawabkan. Anda boleh terkagum-kagum dan ngefens berat pada para ustad yang terkenal di Yuotube dengan ceramahnya yang terpotong secuil-secuil itu. Anda boleh ambil nasihat dari mana saja dan dari siapa saja. Namun setiap kita hendaknya punya cantolan guru yang bisa membimbing dan memberikan nasihat di saat kita sedang mengalami masalah. Jika ada hal-hal yang meragukan tanyakan kepadanya, supaya mendapatkan kemantapan untuk bertindak.

Mari kita ikuti peraturan pemerintah yang telah berusaha dengan segala daya. Ibadah terus kita jalankan. Zikir terus kita ucapkan dan doa terus kita panjatkan, semoga kita diberikan kekuatan untuk membebaskan dari wabah yang mengancam dan segala macam musibah. Amin ya robbal alamin.