021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

MENJUNJUNG KAMANUSIAAN DAN BERKASIH SAYANG ADALAH AGAMA YANG TERBAIK

Doktor Yusuf Al-Qordhowi dalam buku ALHURRIIYATUD DINIYYAH menyatakan: “Agama adalah ruh dari wujud kemanusiaan.”

Kemanusiaan adalah sifat-sifat terpuji yang melandasi hubungan antar manusia, sehingga ada peradaban, penghormatan, cinta kasih sayang, empati dan simpati. Dan agama adalah ruh dan semangat sekaligus jalan terangnya.

Kepada Agama semacam inilah,  Allah perintahkan kita untuk menghadapkan wajah dan perhatian. Itulah agama yang sejati, bukan symbol semata. Maha Benar Allah yang telah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ﴿الروم: ٣٠﴾

Artinya: Maka hadapkanlah perhatianmu kepada agama dengan seksama; yaitu fitrah Allah yang ditetapkan atas manusia (Ar-Rum: 30)

Ibnu Abbas berkata:

قيل لرسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم : أي الأديان أحب إلى اللَّه ؟ قال : الحنيفية السمحة

Rasulullah ditanya: Mana agama-agama yang paling dicintai Allah? Rasulullah menjawab: Yaitu agama yang mengegakkan kemanusiaan dan memberikan kemudahan hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

Artinya: Aku diutus membawa agama hanifiyyah dan samhah.

Misi utama Rasulullah SAW adalah membangun peradaban manusia berbasis akhlak dan rasa  kasih sayang. Yaitu memuliakan manusia dan memanusiakan manusia. Tidak boleh ada kultus, karena kultus berarti mengambil hak Tuhan. Tidak boleh ada hujatan,  cacian, dan penghinaan terhadap  manusia atas dasar apapun,  karena setiap manusia itu dimuliakan Tuhan dan sosok manusia adalah miniature Tuhan.

Abu Hurairah berkata:

قيل : يا رسول الله ، ادع على المشركين . قال : إني لم أُبعث لعَّانًا ، وإنما بُعِثت رحمة . رواه مسلم

Dikatakan kepada Rasulullah: Wahai Rasul doakan orang-orang musyrik (diazab). Rosulullah menjawab: Sungguh aku tidak diutus untuk melaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat.

Menjadi sangat jelas, bahwa agama yang diajarkan oleh Rasulullah adalah agama yang menebarkan rahmat kasih sayang kepada alam raya ini. Wama arsanakan illa  rahmatan lil alamin.

Agama Rahmatan Lil Alamin (menjadi rahmat dan menyebarkan kasih sayang) ini mempunyai ciri-ciri:

  1. Moderat atau At-Tawassuth yakni berdiri di tengah-tengah bisa diterima oleh seluruh umat, tidak ekstrim. Allah nyatakan ciri ini dalam Surat Al-Baqarah ayat 143.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً ﴿ البقرة: ١٤٣﴾

Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, UMMAT WASATHA (moderat) agar kamu menjadi orang-orang melihat kenyataan di tengah-tengah manusia, dan Rasul juga melihat kenyataan kamu (Al-Baqarah: 143).

  1. Seimbang atau At-Tawazun, yakni bermuamalah secar seimbang, urusan dunia dan urusan akahirat seimbang. Keseimbangan ini digambarkan oleh Allah dalam Surat Al-Hadid ayat 25.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً ﴿٦٧﴾

Dan orang-orang yang apabila mengeluarkan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan, juga tidak kikir; tetapi seimbang di tengah-tengah Al-Furqan: 67)

  1. Adil atau Al-I’tidal yakni memberikan ketentuan hukum dan hak-hak kemanusiaan secara adil terhadap siapapun sekalipun kepada orang yang tidak memeluk Islam. Memberikan penegasan hukum tetapi disampaikan dengan penuh kesantunan. Keadilan ini diperintahkan Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 8.

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿ المائدة: ٨﴾

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Maidah: 8).

  1. Toleran, tenggang rasa, saling menghargai dan mudah memaafkan atau At-Tasamuh. Tidak melakukan kekerasan terhadap orang yang dianggap salah, dianggap tidak seagama, tetapi justru memberi ruang untuk berdialog. Jika tidak bisa diajak menemukan kesefahaman, tidak boleh ada pemaksaan. Allah berfirman dalam Surat Al A’raf: 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh (Al-A’raf: 199).

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿النور: ٢٢﴾

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (An-Nur: 22)

  1. Kesamaan dan kesejajaran atau Al-Musawah. Bahwa setiap orang sama-sama kedudukannya, tidak boleh saling menghina dan merasa paling benar. Tidak ada perbedaan orang Arab dan orang non Arab, Pribumi dan non pribumi. Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) wanita (mengolok-olok).