021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Prinsip pengelolaan masjid meliputi bidang Idarah, Imarah dan Riayah. Ketiga prinsip pengelolaan tersebut oleh Pengurus Masjid Jami’ Al-Ihsan, diarahkan menuju visi besar, yaitu: Melayani Jamaah Dalam Beribadah, Meningkatkan Kualitas Hidup Untuk Berkhidmah, Dan Menguatkan Kebersamaan Dalam Ukhuwah.

Melayani Jamaah Dalam Beribadah

Bagi Pengurus, misi ini adalah perintah Allah, yang sesungguhnya juga diperintahkan kepada semua umat Muhammad Saw. Pelayan umat, dialah penghulu kaum, dialah orang yang memberikan manfaat kepada orang lain. Rasulullah Saw bersada:

سيد القوم خادمهم

Tuan bagi salah satu kaum, dia itulah yang melayani mereka.

خير الناس انفعهم للناس

Sebaik-baik manusia, merekalah yang paling memberi manfaat kepada manusia.

Allah menjanjikan pahala dan balasan yang besar bahkan upah secara kontan kepada orang-orang yang membantu memenuhi apa yang diperlukan orang, menolong, memfasilitasi, menyiapkan kebaikan atau menciptakan sesuatu yang berguna bagi orang lain, lebih-lebih orang yang hendak beribadah, orang yang hendak berbuat baik, atau orang yang ingin meninggalkan keburukan. Disebutkan dalam hadits:

عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من يكن في حاجة أخيه يكن الله في حاجته

Dari Jabir ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya (HR. Muslim).

من يسر على معسرٍ يسر الله عليه في الدنيا والآخرة ومن ستر مسلماً ستره الله في الدنيا والآخرة والله في عون العبد مادام العبد في عون أخيه ومن سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة

Barangsiapa yang memudahkan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan kepadanya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong seorang hamba selagi hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga.

Seluruh Pengurus, karyawan dan relawan hakikatnya adalah para pelayan yang berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada para jamaah dalam bidang ibadah, tentu sesuai dengan kemampuan yang ada. Pengurus Masjid berusaha menyiapkan suasana yang benar-benar bisa membuat jamaah aman dan nyaman. Pengurus berusaha membuat jamaah betah berlama-lama ibadah dalam masjid (bukan tidur di dalam masjid). Pengurus berusaha melayani dengan santun agar jamaah merasa “dimanusiakan.” Diusahakan tidak ada satu orang jamaah pun yang merasa tidak nyaman dan tidak merasa aman ketika menjalankan ibadah di masjid ini. Maka di depan pintu masuk sana disiapkan locker untuk penitipan ransel/tas/jaket, termasuk sepatu atau sandal. Kenapa masalah yang kelihatannya sepele ini diperlukan….? Yaitu tadi agar tidak ada satu jamaah yang terganggu dalam ibadahnya, tidak terganggu kekhusyukannya. Misalnya, meletakkan tas yang membuat sepet mata memandangnya,  jaket yang basah dan tercium kurang sedap, atau suara HP yang berdering di saat sedang shalat.

 Meningkatkan Kualitas Hidup Untuk Berkhidmah

Setiap orang menginginkan hidup bahagia, hidup sejahtera, hidup tenang, hidup damai, selamat dunia dan selamat di akhirat. Semua itu hanya bisa dicapai dengan peningkatan kualitas diri. Maksudnya, diri manusia harus diperbaiki secara terus-menerus, di-upgrade dan di-update. Manusia harus terus belajar dan terus berlatih, terus berbuat dan terus melakukan perbaikan secara istiqamah, agar bisa mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman, sehingga amalnya semakin berkualitas. Sebab amal perbuatan yang berkualitas, itulah yang menentukan nilai manusia. Ketika amal seseorang berkualitas, maka secara otomatis dia bisa mengatasi masalah dan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat. Semakin tinggi kualitas amal seseorang akan semakin tinggi kebahagiaannya, kesejahterannya dan juga pendapatannya. Semakin tinggi kualitas amal seseorang akan semakin tinggi derajatnya di hadapan manusia dan tinggi di sisi Allah. Demikianlah sunnatullah berlaku. Allah sangat menyukai amal yang berkualitas. Disebutkan dalam hadits:

إن الله يحب معالي الأمور وأشرافها ويكره سفسافها أخرجه الطبراني

Sesungguhnya Allah sangat menyukai kualitas tinggi dari segala sesuatu dan yang paling mulia, dan Allah membenci segala sesuatu yang rendahan omong kosong (HR. At-Thabarani)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ﴿٣٨﴾

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (Al-Muddatstsir: 38)

Sama dengan barang. Barang yang berkualitas rendah tentu harganya murah. Sebaliknya barang yang berkualitas tinggi harganya pasti tinggi, bukan mahal. Kita menyebut mahal itu kalau barang jelek berkualitas rendah dihargai tinggi. Beli barang kemahalan itu artinya ketipu, harga yang tidak semestinya. Atau bisa jadi, orang menyebut mahal karena bukan kelasnya, kapasitas dan kualitas dirinya belum sampai (belum sampai maqamnya).

Pengurus Masjid sangat peduli terhadap kualitas umat Islam, khususnya kualitas pengamalan agama dan kualitas kesejahteraan. Maka misi ini menjadi sangat penting, karena setiap orang harus hidup berkualitas dalam berbagai sisi kehidupan. Amal yang diterima Allah adalah amal yang berkualitas, dan itulah yang disebut “Amal Shaleh”, yaitu amal yang benar menurut aturan (hukum), amal yang baik menurut situasinya, dan amal yang indah menurut estitaknya. Pengurus mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas pengamalan agama. Yang kaya, kalau kualitas agamanya meningkat, pasti dia akan berkhidmah dengan kekayaannya di jalan Allah, misalnya memberi sumbangan ke masjid, fakir miskin atau anak yatim. Yang miskin, kalau kualitas agamanya meningkat, pasti dia akan bekerja lebih giat dan hasilnya dipergunakan untuk berkhidmah di jalan Allah, untuk keluarga dan sebagainya. Intinya, semua pihak, diajak untuk berkhidmah sesuai dengan porsi dan kemampuannya masing-masing.

Misi ini nampaknya tidak cukup menyolok di depan mata, tetapi itu menjadi sangat nyata manakala para jamaah mengikuti kajaian-kajian rutin, ceramah-ceramah hari besar Islam, khotbah-khotbah jum’at, atau palatihan-pelatihan khusus. Bahkan secara khusus bagi jamaah yang mumpunyai problem kehidupan yang menjadi penghambat peningkatan kualitas diri, Pengurus menyediakan ruang konsultasi.

Menguatkan Kebersamaan Dalam Ukhuwah

Tidak dipungkiri negeri ini terdiri dari begitu banyak perbedaan. Tidak bisa ditolak, kita ini berasal dari daerah yang berbeda-benda, tradisi yang berbeda, kebiasaan yang berbeda dan bahkan perangai yang berbeda. Tidak disangkal kita hidup ini berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang berpendidikan rendah, dan bahkan ada yang tidak sampai melanjutkan pendidikan. Jurusan pendidikan pun berbeda-beda. Ada yang jurusan teknik, ada juruan bangunan, ada yang jurusan matematika, ada yang jurusan sosial, hukum dan sebagainya. Begitu juga dalam mengamalkan ajaran agama. Ada begitu banyak perbedaan dalam masalah-masalah furu’ atau cabang agama. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Allah sudah menyatakan:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ﴿٤٨﴾

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (Al-Maidah: 48).

foto bersama mahfud md

Perbedaan adalah ujian bagi kita untuk memberikan motivasi menciptakian kebaikan, atau perlombaan dalam kebaikan. Maka jangan diperbesar perbedaannya, tetapi kita temukan titik temunya. Dan titik temu itu adalah substansinya, yaitu sama-sama beribadah kepada Allah, sama-sama mencari ridha Allah dan sama-sama berlomba menciptakan kebajikan, bukan saling menjatuhkan atau saling mengkafirkan. Maka di titik ini kita umat Islam harus bersama-sama “bersatu” dalam sebuah kegiatan. Kita perkuat kebersamaan ini demi tercapainya tujuan, demi ketentraman dan demi kedamaian hidup. Jangan kita mudah diadu domba dan dipecah-pecah karena agama yang difahami secara sepotong-sepotong tanpa melihat kontek kekinian. Agama ini dhadirkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia. Negeri ini dibangun untuk kesejahteraan rakyat dan untuk kemerdekaan rakyat. Bagaimana bisa sejahtera dan bisa bebas merdeka memilih hidup kalau kita bertengkar dan saling menyerang.

Pengurus Masjid mengajak umat dan jamaah, apapun afiliasi organisasinya, untuk bersama-sama memakmurkan masjid ini. Kita sambung ukhuwah dan persaudaraan karena Allah. Kita bangun persaudaraan dengan menggunakan bahasa hati yang murni, bukan bahasa mulut yang kadang dibalut kemunafikan. Kita rajut kebersamaan dengan mengembangkan sikap toleransi, saling menghargai, saling menghormati, saling sayang menyayangi dan saling memahami. Kita bangun kebersamaan dengan saling mengunjungi. Kita kunjungi orang-orang tua meminta nasihat, kita datangi tokoh-tokoh penting untuk meminta arahan, kita datangi orang-orang yang punya potensi dan kemampuan, dan kita rangkul semua orang tanpa melihat bajunya atau strata sosialnya. Rasul menyatakan: Yang kuat di antara kamu adalah orang yang peduli kepada yang lemah, dan yang lemah bagi kamu adalah orang yang masa bodoh terhadap orang-orang lemah.

Menyintai dan menyayang sesama adalah perintah Allah. Menyambung silaturrahmi adalah perintah Allah dan disayariatkan oleh Rasulullah. Orang-orang yang membangun persaudaraan dan saling menyayang karena Allah, akan dimuliakan Allah dan masuk golongan yang dijamin Allah. Doa mereka dikabulkan Allah dan di dunia terbebas dari azab atau fitnah (Pengurus).