021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Tanggal 29 Maret 2016 merupakan hari yang istimewa bagi Pengurus DMI Kota Jakarta Selatan. Hari itu mereka dilantik dan dikukuhkan di ruang sidang Gedung Nusantara V DPR-MPR RI Senayan, yang dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. HM. Hidayat Nur Wahid dan Wakil Ketua DMI Pusat Dr. KH. Masdar Fuad Masudi yang juga sebagai salah satu Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama. Acara pelantikan ini sungguh sangat penting artinya dan memiliki kesan berharga bagi dakwah, karena setelah pelantikan dilanjutkan dengan pembekalan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Pancasila, UUD 45, NKRI, dan BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ketua DMI DKI Jakarta KH. Makmun Al-Ayyubi dalam pidato pelantikannya menyatakan bahwa masjid sungguh mempunyai peran yang sangat besar dan luar biasa bagi kehidupan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka masjid harus dikelola dan diberdayakan secara professional. Pengurus Masjid harus terlibat membangun umat dalam urusan dunia dan akhirat, urusan berbangsa dan bernegara. Bayangkan saja, di DKI Jakarta, tahun 2015 ada 3148 masjid yang bergabung dalam DMI DKI Jakarta, padahal masih banyak lagi yang belum terdaftar, belum lagi mushalla. Demi menjaga keutuhan dan ketentraman negara, maka sungguh sangat penting kalau hari ini para Pengurus Masjid anggota DMI Jakarta Selatan diberikan pembekalan 4 Pilar Negara. Supaya mudah diingat 4 Pilar itu kita sebut PBNU, yaitu Pancasila, Bhenika Tunggalika, NKRI dan UUD 45.

Dalam pelantikan itu hadir wakil dari Wali Kota Jakarta Selatan yang memberikan apresiasi dan membacakan sambutan tertulis Walikota Jakarta Selatan. Dalam sambutan ini disampaikan permohonan agara Pengurus DMI Jakarta Selatan dan anggotanya menjaga persatuan dan persaudaraan umat yang teridiri dari berbagai agama dan berbagai perbedaan. Pengurus Masjid mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga budaya luhur bangsa Indonesia yang hampir luntur, membendung paham radikalisme, menjawab tantangan global, dan melahirkan gagasan-gagasan yang inovatif dalam berdakwah dan sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan umat.

Dalam sosialisasi dan pembekalan 4 Pilar ini, DR. Hidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa NKRI adalah harga mati, walaupun isi UUD 45 bisa diubah. Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak mungkin diubah menjadi bentuk lain (misalnya Negara Khilafah, pen). 4 Pilar tersebut sesungguhnya merupakan konsensus bangsa Indonesia, yang pada waktu itu diwakili oleh para ulama yang sudah pasti mendasarkannya pada ajara Islam.  Kalau sekarang ini umat Islam ingin menegakkan syariat, Negara dengan 4 pilar tersebut sesungguhnya telah menjamin kepada siapa saja saja untuk menjalankannya. Kalau ada sebagian umat Islam yang hidup tidak sesuai dengan ajarah syariat, atau hidup dalam kesulitan atau mengalami tekanan, jangan salahkan agama lain atau mendeskreditkan Negara. Umat Islam diberikan kebebasan oleh Negara untuk menjalankan syariat yang dianutnya. Umat Islam diberikan keleluasaan untuk maju dalam berbagai bidang kehidupan dan mengembangkan nilai-nilai agama. Kalau toh misalnya tidak bisa mencapai harapan, maka jangan menyalahkan fihak lain. Umat Islam harus berani mengoreksi dirinya sendiri. Buktinya telah ada undang-undang berbasis syariah, undang-undang zakat misalnya, nyatanya juga banyak umat Islam yang tidak menjalankan sebagaimana mestinya.

Dr. Masdar F Masudi dalam pembekalan ini lebih banyak menjelaskan 4 Pilar dari kacamata Pensanten yakni nilai-nilai agama dan tafsir sosialnya. Para peserta diajak membaca kembali sejarah peradaban umat manusia. Peradaban yang dibangun atas dasar keyakinan (keimanan) transcendental akan kekal dan bertahan lama. Di sinilah, agama berperan secara mutlak. Agama harus menjadi pondasi bangunan peradaban manusia. Anda bisa bisa lihat, agama apapun yang menjadi pondasi peradaban, akan berumuar panjang, apapun agama yang dianutnya.

Islam sebagai agama yang datang paling akhir, sesungguhnya ditunggu-tunggu oleh dunia untuk menjadi model peradaban masa kini dan masa datang. Di saat negara-negara yang secara geografis paling dekat dengan sumber awal peradaban Islam tidak bisa dijadikan model peradaban, maka kini dunia melihat Indonesia yang memiliki populasi penduduk muslim paling besar di dunia, kiranya bisa dijadikan imam peradaban Islam dunia. Mengapa dunia melihat Indonesia….? Karena model Islam di Indonesia tidak sama dengan model yang di Timur Tengah. Muslim Indonesia hidup damai di tengah-tengah beribu-ribu perbedaan, ada perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan adat, perbedaan kulit dan sebagainya. Sementara di sana yang  satu agama dan tidak banyak perbedaan, ternyata tidak bisa hidup damai, mereka saling berkelahi dan saling menyerang. Muslim Indonesia memiliki budaya dan kearifan yang diajarkan oleh Walisongo, yang menekankan perlunya moderat, toleran, saling menghormati, saling menghargai, dan gotong royong. Muslim Indonesia harus bisa hidup dalam kebersamaan tanpa menyalahkan amalan atau keyakinan orang lain, karena Al-Qur’an sudah menggariskan: Agamamu untuk kamu dan agamaku untukku, perbuatan atau apa yang kamu amlakan untuk kamu dan apa yang aku amalkan untukku sendiri. Hukum hanya dipakai untuk menetapkan prilaku yang lahir, nahnu nahkumu bizh zhawahir. Pidana hanya ditetapkan untuk perbuatan, bukan untuk keyakinan. Soal keyakian atau agama, yang menilai benar atau tidak benar hanyalah Allah, dan itu nanti adanya di akhirat. Maka Allah menyatakan: Maliki Yaumiddin, Dialah yang menjadi pemutus/penguasa di hari agama. Dan keputusan soal agama benar atau salah itu di akhirat nanti. Maka dalam hal ini, kita tidak bisa memaksakan diri kepada orang lain kalau agama kita itu yang paling benar lalu menyesat-nyesatkan kepada orang yang beragama lain. Betul kita harus punya keyakinan bahwa Agama kita adalah agama yang paling benar, tapi itu itu untuk ke dalam, jangan dibenturkan kepada agama lain, lalu menyatakan kepada pengikutnya sesat. Kita yang satu agama pun banyak perbedaan dalam masalah-masalah fikih dan muamalah. Jangan merasa paling benar dalam memahami agama, lalu kemudian menyalahkan orang yang tidak sefaham, apalagi sampai mengkafrikan segala.

Begitu besar harapan dunia kepada Indonesia untuk menjadi imam peradaban Islam di dunia, yaitu peradaban yang menghormati dan memuliakan manusia sebagaimana Tuhan memuliakan anak keturunan anak Adam, maka sangat penting masjid dijadikan sebagai pusat pembangunan peradaban manusia. Ketika masjid mampu meciptakan peradaban manusia, maka secara otomatis akan muncul penghargaan secara alami kepada para pengurusnya. Pahami firmah Allah Surat Quraisy: Falya’buduu rabba haadzal baitilladzii ath’amahum min juu’in wa aamanahum min khauf (maka sembahlah Tuhan yang memiliki masjid ini, yang telah memberikan makan mereka dari kelaparan dan telah memberikan rasa aman dari rasa ketakutan).

ALLAH disembah dan diagungkan, kerena Dialah yang memberikan makanan dan yang memberikan rasa aman kepada manusia, dan Dialah yang memilik masjid. Maka jika pengurus masjid ingin mendapatkan penghormatan dan diagungkan oleh jamaah, dalam arti mendapatkan apresiasi, mendapatkan simpati, mendapatkan sambutan dari jamaah, hendaklah pengurus masjid membuat program yang bisa mensejahterakan jamaah dan menciptakan rasa aman bagi jamaah. Program kesejahteraan dan keamanan hidup jamaah ini bisa menggunakan inti masjid sebagai tempat ibadah/ritual, serambinya untuk kegitan sosial kemayarakatan, dan luarnya untuk kegiatan ekonomi (Saifuddin Aman).