021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Foto bersama para peserta pelatihan pengurusan jenazah di Masjid Kerinci Al-Ihsan Jl. Kerinci X No. 8 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Sabtu 23 April 2016.

Dalam kitab Fikih, pengurusan jenazah (pulasara mayit) dihukumkan sebagai Fardhu Kifayah. Artinya, fardhu yang bisa diwakili oleh fihak lain. Jika ada orang meninggal dunia sudah diurus oleh sebagian masyarakat, maka masyarakat yang tidak mengurus tidak terkena dosa/sangsi. Tapi jika tidak ada sama sekali yang mengurus, maka semuanya terkena dosa.

Pengurusan jenazah sebenarnya tidak cukup hanya dilihat dari sisi hukum (Fardhu Kifayah). Lebih dari itu, pengurusan jenazah harus dilihat dari sisi “Hak dan Kewajiban,” lebih-lebih bagi keluarga mayit yang terdiri dari anak, saudara, suami atau istri. Kebanyakan kita tidak menyadari bahwa di situ ada hak dan ada kewajiban serta etika kemanusiaan. Sayang di era sekarang ini di mana banyak begitu kemudahan, orang cenderung menyerahkan hak dan kewajiban serta etika kemanusiaan itu kepada orang lain dengan membayarkan sejumlah biaya. Padahal sesuangguhnya uang yang diberikan sebagai jasa itu tidak seberapa dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan. Di luar negeri, pengurusan jenazah hingga sampai pemakaman sangatlah tinggi. Tidak usah jauh-jauh, di negeri kita ini, pengurusan jenazah bagi masyarakat yang tidak beragama Islam sungguh sangat tinggi biayanya.

Sebenarnya jika ada seseorang meninggal dunia, yang paling bertanggung jawab terhadap jenazah adalah keluarganya, anak-anaknya atau bapaknya, suaminya, istrinya dan saudara-saudaranya. Jika para keluarga menyadari hal ini, maka belajar “pulasara mayyit” atau mengurus jenazah adalah wajib bagi kita, karena bisa jadi nanti anak kita, saudara kita, suami kita, istri kita atau orang tua kita yang meninggal lebih dahulu.

Menyadari hal tersebut, maka Masjid Kerinci Al-Ihsan mencoba mengubah mindset atau cara pikir kita saat menghadapi ada salah satu keluarga yang meninggal dunia. Pengurus Masjid Kerinci Al-Ihsan mencoba memberikan pencerahan kepada umat Islam yang abai atau kurang perhatian terhadap masalah pengurusan jenazah. Begitu banyak alasan orang tidak mempedulikan masalah ilmu pengurusan jenazah ini dengan berbagai alasan. Ada yang berkata: ngapain repot-repot kita tinggal panggil yayasan yang mengurus kematian, kita panggil tukang urus jenazah dan diberi uang jasa, beres. Ada pula yang alasannya takut pada mayyit. Banyak dari umat Islam atau diri kita yang takut melihat mayyit yang sudah terbujur. Padahal mayyit tidak punya daya apa-apa. Takut mayyit berarti takut mati. Kematian yang kita takuti cepat atau lambat, mau tidak mau akan kita temui.

Bagi Anda yang takut mati atau takut pada mayyit, kenapa harus takut dan abai terhadao mayyit? Bagaimana mana kalau yang meninggal dunia itu orang tua Anda atau saudara Anda? Kenapa tidak Anda sadari bahwa mengurus jenazah orang tua atau saudara adalah kewajiban fisik Anda yang paling akhir baginya. Anda tidak pernah bisa berbuat nyata kepadanya sesudah kematiannya itu. Kalau mayit itu adalah orang tua Anda, maka inilah kesempatan Anda yang terkahir untu berbakti secara fisik kepadanya. Terabayangkah Anda, bagaimana orang tua Anda memandikan Anda, dan pernahkah Anda memandikan orang tua…? Maka kenapa Anda tidak berpikir inilah saatnya memandikan orang tua walau cuma sekali dan tidak akan pernah lagi memandikannya. Pernahkan Anda berpikir, berapa kali orang tua memakaikan baju kepada Anda dan pernahkan Anda memakaikan baju kepada orang tua? Maka ketika beliau telah menjadi mayyit, Anda kafankan sendiri sebagai tanda bakti Anda kepadanya. Sadari baru kali itu Anda memakaikan baju kepadanya dan itu kesempatan yang tiada duanya. Pernahkah Anda berpikir bahwa orang tua Anda memberikan perlindungan dan tempat berteduh berupa rumah yang indah dan nyaman? Apa balasan Anda kepada orang tua? Pernahkan Anda memberi teduhan pada orang tua berupa rumah? Jangankah membuatkan rumah, mengajak nginap di tempat lain saja mungkin tidak pernah. Maka kenapa Anda harus takut memasukkan jenazah orang tua ke dalam kubur, yaitu rumah tinggalnya yang terakhir. Begitulah seharunya kita berpikir, sehingga kita akan berbuat sebaik-baiknya untuk yang terakhir kalinya bagi orang yang meninggal dunia. Kalau orang yang menghadiri atau melayat jenazah saja pahalanya sangat luar biasa, maka bagaimana dengan orang yang mengurus jenazah? Tentu lebih besar dari cuka sekedar melayat. Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من شهد الجنازة حتى يصلي عليها فله قيراط . ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان . قيل : وما القيراطان ؟ قال : مثل الجبلين العظيمين ولمسلم أصغرهما مثل أحد

Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang menyaksikan jenazah (melayat) sampai ikut menyalatkannya, maka baginya mendapat pahala satu qirath. Barangsiapa yang melayat jenazah dan ikut mengantarkan sampai dikurburkan, maka baginya mendapat pahala dua qirath. Rasulullah ditanya: Apa itu dua qirath? Rasululullah menjawab: Seperti dua gunung yang besar-besar. Dalam Riawayat Imam Muslim, yang paling kecil seperti gunung Uhud.

Betapa pentingnya Ilmu Pengurusan Jenazah ini, maka Masjid Kerinci Al-Ihsan mengadakan pelatihan pada tanggal 23 April 2016. Dan setelah itu, Pengurus Masjid Kerinci Al-Ihsan siap membantu Anda untuk mengurus dan memberikan pelajaran pengurusan jenazah. Prinsipnya, Andalah yang bertanggung jawab terhadap jenazah keluarga Anda, dan Majis Kerinci Al-Ihsan membantunya. Namun jika Anda benar-benar dalam kesulitan, insya Allah Masjid Kerinci Al-Ihsan menyiapkan diri mengurusnya berikut mobil jenazahnya.