021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

undangan-santunan

Ajakan berpastisipasi menyantuni anak yatim dan mengikuti pengajian bulanan Sabtu, 15 Oktober 2016 jam 09.00 WIB di Masjid Jami’ Al-Ihsan Jl. Kerinci X No. 8 Kebayoran Baru Jakarta Selatan Telp 021 7244630

RENUNGAN TAHUN BARU ISLAM

Ketika kita menyambut dan memasuki Tahun Bari Islam, setidaknya ada 3 hal penting yang patut menjadi renungan untuk kemudian kita lakukan aksi nyata.
Pertama, renungan tetantang Bulan Muharram.
Kedua, renungan tentang Hijrah.
Ketiga, renungan tentang Muhasabah (Instrospeksi).

Bulan Muharram, adalah bulan yang dimuliakan Allah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa bulan Muharram sebagai SYAHRULLAH, bulan Allah. Tidak ada sebutan kata atau nama yang disandingkan dengan lafzul Jalalah ALLAH, kecuali sesuatu itu benar-benar sangat agung dan diperhatikan Allah.

Di bulan Muharram ini permulaan tahun dimulai. Fajar tanggal 1 Muharram merupakan hari yang paling indah dan paling agung untuk memulai perjalanan kehidupan baru, memulai catatan amal shaleh dan memulai mengisi buku baru. Begitu agungnya, sampai Allah bersumpah dalam Surat Al-Fajr:

والفجر

Demi fajar.
Qotadah menyatakan: Sesungguhnya fajar yang dijadikan sumpah Allah di awal surat Al-Fajr adalah fajar hari pertama bulan Muharram di mana dari sana dimulai tahun baru.

Setiap momentum, hari, waktu atau bulan yang diagungkan Allah, di situ ada anjuran untuk melakukan ibadah secara khusus dan ada anjuran untuk meningkatkan amal shaleh. Sebab nilai ibadah atau amal shaleh di saat itu memiliki keafdhalan atau keutamaan dibandingkan dengan hari atau waktu-waktu biasa. Maka di bulan Muharram ini ada anjuran dari Rasulullah Saw untuk berpuasa. Disebutkan dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ أخرجه مسلم في صحيحه

Dari abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: Seutama-utama puasa sesudah Ramadhan adalah puasa di bulan bulan Allah Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu adalah shalat malam (HR. Muslim).

Hijrah Rasulullah SAW. Kita sudah tahu sejarah hijrah Rasulullah dari Makkah menuju Madinah. Kita tidak usah ungkap perjalanan hijrah secara fisik. Akan tetapi lebih dari itu mari kita temukan makna dan hikmah dari hijrah Rasulullah SAW dalam kontek kehidupan masa Rasulullah dan kontek kehidupan masa kini dan masa dapan.

Hijrah adalah keniscayaan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Hijrah adalah sebuah pilihan mutlak yang harus dilakukan untuk mengubah nasib. Semua Rasul melakukan hijrah. Semua Nabi Melakukan hijrah. Semua manusia harus hijrah. Dan hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah kepada Allah, melakukan perjalanan menuju Allah dengan meniggalkan hal-hal yang dilarang dan menjalankan amal shaleh, seperti yang dinyatakan oleh Nabi Luth alaihis salam:

وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٢٦﴾

Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al-Ankabut: 26).

Nabi Ibrahim juga berhijah dengan menggunakan kata pergi. Allah berfirman:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ ﴿٩٩﴾

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku (As-Shaffat: 99).

Rasulullah Saw bersabda: “Orang Muslim adalah orang darinya orang-orang selamat dari tangan dan ucapannya. Dan orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”

Muhasabah (Introspeksi Diri). Kita diperintahkan untuk melihat diri, melihat masa lalu dan melihat atau membaca sejarah. Tujuan utamanya adalah agar kita menjadi lebih baik pada masa yang akan datang. Lebih dari itu, agar kita tidak jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Yang baik ditingkatkan dan yang buruk jangan sampai terulang kembali. Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk menjadi pelajaran hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyr: 18)

Hari-hari yang telah berlalu harus kita ingat, hari-hari yang sedang berjalan harus kita perhatikan, dan hari-hari yang akan harus menjadi tujuan dan harapan, agar kita menjadi orang yang terus bersabar dan terus bersyukur kepada Allah. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan: 62).

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ ﴿٥﴾ ابراهيم

Dan ingatkan mereka dengan hari-hari Allah. Karena yang demikian itu sungguh menjadi tanda-tanda bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur (QS. Ibrahim: 5).

Ingatlah bahwa waktu akan terus berlalu, siang berganti siang dan siang berganti malam. Waktu terus berjalan dan kita akan meninggalkan dunia. Maka beramallah sebaik-baiknya, dan berikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Jangan ada hari yang terlewatkan kecuali kita bisa melakukan kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata:

ماندمت على شيء ندمى على يوم نقص فيه اجلى ولم يزدد فيه عملى

Aku tidak menyesal atas hilangnya sesuatu, tetapi aku menyesal atas hari di mana umurku berkurang dan tidak bertambah amalku.

Allah ciptakan hari, agar kita bersyukur. Ingatlah bahwa waktu terus berjalan dan kita masih diberikan kesempatan untuk hidup. Maka syukuri keberadaan kita, syukur diri kita dan syukuri apa yang ada pada diri kita. Sadarilah bahwa kita adalah makhluk yang sangat disayang Allah. Tetapi karena kita tidak pernah mencoba berpikir dari sisi-sisi lain, maka kita lebih banyak mengeluh dan merasa tidak pernah beruntung. Cobalah melihat diri kita, dari sisi seorang yang punya rasa seni tinggi. Cobalah kita lihat apa yang kita punya, dari pandangan ahli iklan. Nanti kita akan menjadi orang yang bersyukur. Ketika kita menyadari begitu banyak nikmat dan karunia Allah, maka secara otomatis kita punya semangat untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.