021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

 

Tidak ada yang sempurna kecuali Allah. Sungguh pun demikian, mari kita berusaha meraih kesempurnaan dengan menjalankan ajaran agama secara benar. Beragama yang benar harus menjalankan 3 rukun agama, yaitu ISLAM, IMAN dan IHSAN. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang berkelindan dan tidak terpisahkan. Islam adalah pekerjaan tubuh fisik. Iman adalah pekerjaan hati yang berhubungan dengan motivasi dan kekuatan batin yang menggelorakan. Ihsan adalah pekerjaan rahasia yang mendekatkan pada kesempurnaan, prilaku yang bersumnber dari nurani, yang membuat diri menjadi lebih bermakna, hidup menjadi indah dan nikmat, bisa menemukan nilai-nilai kemuliaan dan hakikat dari segala yang ada. Dan Tasawuf adalah ilmu dan amal Ihsan.

Stevan Raahmot Guru Besar Bidang Studi Islam berkebangsaan Jerman di Universitas Bochum menyatakan bahwa “Tasawuf adalah Jantung Islam.” Eric Giovroa, Guru Besar berkebangsaan Perancis di Universitas Luxembourg menegaskan: “Masa depan dunia Islam dipastikan tergantung pada arus tasawuf, bahkan ada generasi muslim baru yang menegaskan bahwa solusi masalah kehidupan masa kini ada di tangan tasawuf.”

Persoalan dunia masa kini disebabkan mewabahnya penyakit “Wahn.” Seorang Dai bernama Ali Zainal Abidin Al-Yamani mengatakan: “Pada hakikatnya saya melihat inti permasalahan kehidupan manusia dan seluruh musibah besar yang menimpa manusia, semuanya disebabkan wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Dan yang bisa mencegah dan menyembuhkan keduanya hanyalah tasawuf dalam arti yang sesunggunya.”

Tasawuf adalah ruh Islam. Kalau syariat itu kita ibaratkan badan, maka ruhnya adalah Tasawuf. Badan tidak hidup kalau tidak ada ruh, sebaliknya tidak ada kehidupan tanpa jasad. Sungguhpun keduanya saling terkait dan saling berkelindan alias tidak bisa lepas, namun posisi ruh jauh lebih menentukan. Karena tasawuf sebagai ruh bisa mengantarkan pada puncak spiritualitas. Dengan demikian, berarti tasawuf sangat menentukan arah kehidupan dan tujuan akhir dari kehidupan.

Ada banyak alasan mengapa saat ini kita harus bertasawuf? Karena dengan bertasawuf berarti kita menjalankan rukun agama secara sempurna. Tasawuf, kata Dr. Abu Ala’ Afifi adalah “Revolusi Mental.” Revolusi mental berarti melakukaan perubahan menuju kebaikan dengan cara yang lebih cepat. Revolusi tidak sama dengan reformasi, karena reformasi yang kita lakukan selama ini justru menjungkirbalikkan keadaan. Maknanya, dengan tasawuf kita akan cepat sampai kepada yang kita tuju. Alasan mengapa kita harus bertasawuf sangat banyak, di antaranya:

  1. Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh syariat/fikih/hukum secara lahir, misalnya apa tujuan hidup, apa makna hidup, bagaimana menemukan dan merasakan keagungan Tuhan, bagaimana menghayati keimanan, bagaimana menyintai Tuhan? Petanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan modern, hanya Tasawuf yang bisa menjawab.
  2. Menurut keterangan dari IDI, mayoritas masyarakat Indonesia kini dalam kondisi tidak sehat secara menyeluruh. Indikasinya adalah banyaknya prilaku menyimpang di mana-mana. Kalau dulu ada ungkapan “Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat,” maka ungkapan itu harus diubah menjadi “Di dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang sehat.” Sebab ternyata banyak orang yang nampaknya sangat gagah dan perkasa tetapi jiwanya sakit. Ada ungkapan No Health without Mental Health. Undang-undang Kesehatan No 36 tahun 2009 menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Tasawuf membahas antara hubungan jiwa dan raga, antara mental dan spiritual. Tujuannya adalah terciptanya keselarasan antara jiwa dan raga manusia. Dengan keseimbangan itu, kita bisa menjadi manusia yang produktif.Dan guru-guru tasawuf, mereka sesungguhnya adalah psikolog, psikiater dan dokter spesialis bagi murid-muridnya.
  3. Kita menghadapi banyak kerusakan di darat dan di laut, rusaknya tatanan kehidupan, tidak berjalannya hukum, banyaknya kezaliman politik dan kezaliman sosial, juga kezaliman ekonomi. Para pelakunya adalah orang-orang yang berpendidikan. Mereka pandai mencari pembenaran atas apa yang dilakukan, mereka pandai berdalil dengan hukum yang diputar-putar atau digoreng-goreng demi ambisi keserakahan dan kekuasaan. Keserakahan adalah masalah mental dan penyakit hati. Solusi dan obatnya tidak ada lain kecuali tasawuf.
  4. Kita adalah makhluk yang paling bertanggung jawab di muka bumi ini. Maka setiap diri ini harus diberdayakan. Sedangkan diri manusia adalah ruhnya, bukan fisiknya. Karena itu ruh harus diasah dan diasuh supaya meraih spiritualitas. Pengasahan dan pengasuhan ruh tidak lain adalah dengan bertasawuf.
  5. Dalam hidup ini kita menghadapi begitu banyak kegaiban. Realitasnya manusia baru bisa mengakses atau mengindra 5 persen kenyataan, atau bahkan lebih sedikit dari itu, sedangkan yang 95 persen masih gaib. Setiap orang punya harapan, dan harapan itu masih gaib. Setiap orang ingin mendapatkan kebaikan, dan kebaikan itu masih gaib. Tasawuf memungkinkan kita bisa mukasyafah, mendapatkan informasi dari Allah melalui intuisi atau ilham. Dengan tasawuf, hati menjadi bening, dan kebeningan akan memantulkan cahaya terang.

Tasawuf menjadi solusi masa kini, menjadi kebutuhan masyarakat modern yang haus akan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai keabadian, menjadi penyejuk dan pemuas batin di saat emosi tidak puas atas semua yang telah dicapai.

Pada tanggal 25 Oktober 2014 Republika On Line menyampaikan berita bahwa sekarang pemeluk Islam menduduki nomor 1 terbesar di dunia, bukan lagi agama Kristen. Penduduk dunia kini sedang beramai-ramai masuk Islam. Apa penyebab orang-orang Eropa, Amerika, Rusia dan penduduk dunia masuk Islam? Apakah karena pengaruh negara-negara Islam? Apakah karena isu khilafah yang diusung Hizbut Tahrir? Apakah karena gagasan penggantian hukum buatan manusia dengan Syariat Islam yang diusung oleh beberapa ormas Islam Indonesia? Apakah karena Khilafah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh ISIS dan yang lainnya? Apakah karena dakwah Salafi yang konsisten pada pengkafiran, pemusyirkan, pembid’ahan dan memusuhi sesama?

Ternyata mereka masuk Islam sama sekali bukan karena pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Padahal isu-isu yang tersebut di atas selama ini menjadi konsentrasi semua organisasi Islam yang berjuang untuk bisa membuat orang cinta kepada Islam. Nyatanya mereka masuk Islam karena dimensi yang lebih substantif daripada hanya sekedar simbol-sombol Islam atau isu-isu Syariat. Yuri Velerivic Maximov menjelaskan dalam penelitiannya yang dimuat dalam http://www.kalemasawaa.com, bahwa ada beberapa sebab terbesar yang membuat masyarakat dunia, Eropa, Amerika, Rusia dan sebagainya beramai-ramai memeluk Islam, yaitu:

  1. Rasionalitas Islam yang menjadi ciri utama. Islam agama fitrah dan masuk akal.
  2. Spiritualitas Tasawuf. Inilah dimensi terpenting dalam Islam agar bisa merasakan keindahan Tuhan dan kebahagian hidup.
  3. Penghargaan terhadap peninggalan, budaya dan tradisi yang ada. Islam sangat menghargai peninggalan, norma, tradisi dan budaya yang ada di sebuah negara. Beragama Islam tidak harus sama mengikuti budaya Arab.

Dr. Abu Ala Afifi dalam bukunya At-Tasawwufu Ats-Tsaurat Ar-Ruhaniyah Fil Islam, menyatakan: “Umat Islam sendiri tidak mendapatkan kepuasan batiniahnya dan tidak mendapatkan jawaban masalah-masalah dunia yang bisa memuaskan emosionalnya dari ahli fikih dan ahli kalam, maka mereka berlari mencarinya, dan mereka mendapatkannya ada di dalam tasawuf.”

Usman Thahir Al-Majmar mahasiswa S3 di Universitas Paris dalam disertasinya berjudul At-Tasawwufu Jisrun Hadhariy Wa Insani Bainal Masyriq wal Maghrib, mengungkapkan bahwa setelah peristiwa 11 September 2001, yakni penghancuran WTC, di mana kejadian tersebut mendorong Amerika untuk melakukan penyerangan terhadap Irak dengan dalih penghancuran senjata kimia dan itu adalah kebohongan belaka. Di sisi lain setelah itu terjadi kekacauan di beberapa Negara Islam yang pemicunya adalah gerakan oleh sekelompok masyarakat atau faksi yang berkeinginan menegakkan Syariat Islam seperti yang terjadi di Nigeria, Somalia, Suriah, Afganistan, Mesir dan lain-lain. Di sanalah terjadi perang saudara, karena yang menyerang adalah orang Islam dan yang diserang juga orang Islam. Kita tidak tahu apakah yang setuju atau tidak setuju ada di posisi benar atau tidak benar. Tetapi yang jelas ada sebuah hadis Rasulullah Saw menyatakan: Jika ada dua orang Islam bertemu dan saling menghunus pedang dan saling menyerang, maka orang yang membunuh dan orang yang dibunuh masuk neraka.

Usman Thaher menambahkan bahwa orang-orang barat masuk Islam bukan karena kajian hukum Islam, Syariat atau kajian Ulama Fikih. Tetapi mereka memeluk Islam karena di dalam ajaran Islam ada sisi yang lebih dalam yang bisa membuat hidup menjadi indah, yaitu sisi rahamatan lil alamin. Dan itu ada dalam Tasawuf yang bisa mempertemukan dunia barat dan dunia timur. Tasawuf mengajarkan bahasa hati, bahasa perdamaian dan bahasa tubuh yang penuh kesantunan rahmatan lil alamin. (Dari Mukaddiman buku TASAWUF REVOLUSI MENTAL, karya Saifuddin Aman)