021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

SEJARAH PENETAPAN SYARIAT (1)
Inti agama adalah mengagungkan Tuhan dan memanusiakan manusia. Untuk mengangungkan Tuhan dan memanusiakan manusia, Allah berikan aturan yang diwahyukan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Aturan itulah yang disebut Syariat.
Sejarah memberitahukan kepada kita bahwa nabi dan rasul banyak sekali. Ada 124.000 nabi dan ada 313 rasul. Para Nabi dan Rasul hidup di tempat /negara yang berbeda-beda, di tengah-tengah umat yang berbeda-beda, dan dalam waktu yang berbeda-beda. Itu sebabnya, syariatnya juga berbeda-beda. Dan nabi dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Saw. Beliau diutus menyampaikan Syariat Islamiyah kepada segenap manusia. Syariat ini harus menjadi hukum dan landasan kita untuk bertindak dan bersikap. Maka kita harus tahu bagaimana proses penetapan syariat. Jangan karena kita tidak tahu proses penetapan Syariat lalu terkecoh dan mudah tersihir oleh orang-orang yang berbicara Syariat tetapi tidak memahami sumber penetapan Syariat, berbicara Islam tetapi tidak tahu perkembangan Islam, berbicara tentang Islam di Indonesia tetapi tidak tahu sejarah bagaimana Islam bisa diterima di Indonesia.
Seperti sudah saya sebutkan bahwa Syariat adalah aturan Tuhan. Dan penetapannya sampai kepada kita berproses dalam beberapa priode. Dalam Kitab Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami disebutkan, proses penetapan aturan atau Syariat terbagi menjadi 6 periode:
1.Periode Rasulullah Saw. Periode ini tidak ada maslah karena semua masalah langsuang ditanyakan kepada Rasulullah, dan menjadapat jawaban melalui wahyu.
2.Periode Sahabat-Sahabat Besar dan berusia tua Khulafaur Rasyidin, dari tahun 11 H sampai 40 Hijriyah. Periode ini juga tidak ada masalah, kerena mereka faham betul, tahu makna yang tersurat dan makna yang tersirat, tahu tafsir dan tahu takwilnya, ditambah mengalami perjalanan hidup bersama Rasulullah.
3.Periode Sahabat muda dan para tabi’in. Periode ini juga tidak banyak problem penerapan hukum Islam, karena mereka masih dekat dengan masa Rasulullah dan juga masih melihat jejak-jejak para sahabat agung.
4.Peiode Penulisan dan pembukuan hadis, usul fikih, fikih dan lahirnya 4 Ulama Ahli Fikih atau Mazhab:
*Imam Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit. At-Taymi. Lahir di Kufah Irak 80 H (699 M) dan wafat 148 H (769 M). Sungguhpun beliau berpegang pada nash, beliau masih melihat bila nash tidak masuk akal, maka beliau tinggalkan nash dan menetapkan hukum menggunakan logika.
*Imam Malik. Malik bin Anas. Lahir di Madinah 93 H (714 M) dan wafat 179 H. Beliau adalah ahli hadis dan tentunya ahli nash, hafal beribu-ribu hadis dan menulis hadis dalam Kitab Al-Muwatta’. Tetapi dalam menetapkan hukum beliu mengutamakan dengan dalil perbuatan penduduk Madinah. Kalau misalnya ada dalil nash, tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah, maka beliau tinggal dalil nash dan menetapkan hukum dengan kebiasaan penduduk Madinah.
*Imam Syafi’i, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Lahir di Gaza 150 H dan wafat 203 H. Beliua adalah ahli bahasa, hafalan nashnya jangan ditanya, sejak kecil sudah hafal Al-Qur’an. Dalam menetapkan hukum, beliau menggunakan nalar dan juga menggunakan nahs. Maka beilau dikenal sangat berhati-hati dan selalu berada di tengah-tengah (moderat).
*Imam Hambali, Ahmad bin Hanbal. Lahir tahun 164 H dan wafat 241 H. Beliau ini sangat cerdas dalam menghafal nash. Beliau mengumpulkan hadits shahih yang disebutkan dalam Kitab Musnad. Beliau dalam menetapkan hukum murni dengan nash tanpa logika. Dan mazhab beliau inilah yang diikuti oleh Arab Saudi. Maka mahasiswa yang tamatan sana bisanya cuma ngapal dan tidak tahu substansi. Ketika ada masalah tidak disebutkan dalam hadits, maka para pengikut mazhab ini akan mengatakan BID’AH, karena tidak ada dalilnya. Kenapa… karena mereka tidak pakai logika. Padahal sesungguhnya, Imam Ahmad itu aslinya dalam menetapkan hukum tidak cuma dengan nash, tetapi menggunakan isthishab, istihsan dan sebagainya yang sekarang tidak dipakai oleh ulama paham bumi datar.
5.Periode Pengembangan dan Penguatan Mazhab, sekaligus munculnya perdebatan, yaitu sejak abad 4 Hijriyah sampai runtuhnya Daulah Abbasiyah di Irak.
6.Periode Sesudah Runtuhnya Daulah Abbasiyah dibawah kekuasaan Mongol tahun 656 H (1258 M) sampai sekarang. Dan inilah Masa Taqlid. Jadi ulama zaman now hebatnya kaya apa, mereka tetap sebagai muqallid (mengikut). Maka jangan salah-salahin ulama terdahulu hanya karena saudara tahu satu atau dua hadis.