021-7244630 yayasanpiai@gmail.com

Ada orang gila masuk ke sebuah tempat ibadah dan mendapati ada orang yang berdoa sesudah beribadah. Dengan seriusnya orang itu berdoa:

Wahai Tuhanku, jangan masukkan aku ke dalam neraka. Rahmatilah aku dan perlakukan aku dengan penuh kasih. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, jangan siksa aku dengan api neraka, sesungguhnya aku sangat lemah, aku tidak punya kekuatan untuk menanggung api neraka, maka rahmatilah aku. Ya Tuhan, kulitku sangat tipis tidak mampu menahan panasnya api neraka, maka sayangilah aku. Ya Tuhan, tulangku rapuh tidak kuat menahan panasnya jilatan api neraka, maka sayangilah aku.

Mendengar doa itu, orang gila yang ada di dekatnya tertawa dengan terbahak-bahak. Ahli ibadah yang sedang berdoa tidak bisa konsentrasi lalu mengakhiri doanya, kemudian menengok sambil berkata: Apa yang membuat kamu tertawa hai orang gila?

Orang gila menjawab: Ucapanmu itu yang membuat aku tertawa.

Ahli ibadah membalas: Ucapan mana yang membuat kamu tertawa?

Orang gila: Yaitu tadi kamu menangis takut dari neraka.

Ahli ibadah: Apakah kamu tidak takut dari neraka?

Orang gila: Tidak, saya tidak takut dari neraka.

Ahli ibadah tertawa dan berkata: Pantas, karena kamu orang gila.

Orang gila: Bagaimana kamu takut dari neraka wahai ahli ibadah, sementara kamu punya Tuhan yang Maha Pengasih, rahmat-Nya sangat luas dan meliputi segala sesuatu?

Ahli ibadah: Sesungguhnya saya punya dosa banyak, sekiranya Allah memperhitungkan dengan keadilan-Nya, pasti Dia akan memasukkan aku ke dalam neraka. Aku menangis supaya Tuhan mengasihi aku, mengampuni dosa-dosaku, tidak menghitung aku dengan keadilan-Nya, tetapi menghitung dengan kemulian-Nya, dengan kelembutan-Nya dan dengan rahmat-Nya, sehingga aku tidak masuk neraka.

Di situ justru orang gila makin keras tertawanya dibandingkan tertawa yang tadi, sehingga si ahli ibadah makin tercengang dan bertanya: Apa yang membuat kamu tertawa seperti itu?

Orang gila: Wahai ahli ibadah, kamu punya Tuhan Yang Maha Adil, tidak curang, kenapa kamu takut keadilan-Nya? Kamu punya Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha menerima taubat, kenapa kamu takut neraka-Nya?

Ahli ibadah: Apakah kamu tidak takut kepada Allah hai orang gila?

Orang gila: Betul, aku sangat takut kepada Allah. Tetapi ketakutanku bukan dari neraka-Nya.

Ahli ibadah merasa heran dan bertanya: Jika kamu tidak takut dari neraka-Nya, terus dari apa ketakutanmu?

Orang gila: Aku takut menghadapi Tuhan dan takut atas pertanyaan-Nya padaku. Aku takut pertanyaan Allah: “Hamba-Ku kenapa kamu durhaka pada-Ku?” Bila aku termasuk ahli neraka, aku berharap Tuhan memasukkan aku ke neraka tanpa memberikan pertanyaan seperti itu kepadaku. Azab neraka lebih ringan bagiku daripada pertanyaan Tuhan. Aku tidak mampu menghadapi Tuhan dengan mata yang khianat dan mulat yang berdusta. Jika aku masuk neraka karena ridha Tuhan, itu tidak menjadi masalah.

Ahli ibadah itu pun mulai memikirkan apa yang dikatakan orang gila.

Lalu orang gila itu berkata: Wahai Ahli ibadah, aku katakan rahasia kepadamu, jangan dishare kepada orang lain ya.

Ahli Ibadah: Apa rahasia itu wahai orang gila yang cerdas?

Orang gila: Wahai ahli ibadah! Allah tidak akan memasukkan aku ke dalam neraka, tahukah kamu kenapa?

Ahli ibadah: Memang, kenapa?

Orang gila: Karena aku beribadah kepada Allah, semata sebagai syukur demi cinta dan rindu kepada Allah. Sedangkan kamu beribadah kepada Allah karena banyak harapan dan ketakutan. Keyakinanku kepada Allah lebih afdhal daripada keyakinanmu kepada Allah, harapanku kepada Allah lebih tinggi daripada harapanmu kepada Allah. Maka itu wahai ahli ibadah, kenapa kamu tidak berharap lebih besar daripada apa yang kamu harap. Nabi Musa pergi untuk mendapati api agar terhindar dari api, maka dia meraih kemulian kenabian. Dan aku pergi untuk melihat keindahan Tuhan, kemudian kembali menjadi gila.

Setelah itu pergilah orang gila sambil tertawa. Sementara ahli ibadah menangis dan berkata: Aku tidak percaya kalau dia orang gila. Dia itu orang yang paling berakal dari banyak orang yang berakal. Sayalah sesungguhnya orang yang gila itu. Dan saya akan tulis kata-katanya dengan tetesan air mata.

Ini kisah dunia tasawuf untuk direnungkan. Ternyata kebanyakan kita adalah orang-orang yang gila, bukan orang yang cerdas. Orang cerdas dialah yang ikhlas.